"Jadi, kami harus segera duduk bersama, lihat apa ini bisa diterapkan dan apa implikasinya," tambahnya.
Di sisi lain, Afrika Selatan justru menyambut baik perubahan sikap Amerika ini. Ramaphosa menyebutnya sebagai "tanda positif". Bagaimanapun, AS tetap menjadi ekonomi terbesar di dunia. "Mereka harus hadir di sini," tegasnya. "Kami senang ada perubahan pendekatan, meski detailnya masih kami bahas."
Perlu diingat, hubungan kedua negara belakangan memang tidak begitu mulus. Presiden AS Donald Trump, sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu, beberapa kali menyoroti Afrika Selatan dengan nada keras. Salah satunya adalah klaimnya yang sudah dibantah banyak pihak bahwa warga Afrikaner kulit putih di sana mengalami pembunuhan sistematis. Isu itu sempat memanas dan menambah ketegangan di antara kedua pemerintah.
Artikel Terkait
Mata di Angkasa: Drone Polri Catat 18 Pelanggar di Cibubur
Pedagang Takoyaki di Kalideres Cabuli Anak 11 Tahun, Jemput Korban dari Rumah
Utang Rp 300 Ribu Berujung Tewas, Mantan Rekan Parkir Tusuk Korban dari Belakang
AS Suntik Rp 758 Miliar untuk Kukuhkan Gencatan Senjata Thailand-Kamboja