Banjir Parah Landa Vietnam, Puluhan Nyawa Melayang
Sejak akhir Oktober, hujan deras tak henti-hentinya mengguyur kawasan Vietnam selatan-tengah. Akibatnya, beberapa destinasi wisata populer pun tak luput dari terjangan banjir yang datang berulang kali. Pemandangan yang terlihat sungguh memilukan. Tim penyelamat terpaksa mengevakuasi warga yang terjebak di atap-atap rumah mereka yang sudah tenggelam oleh air. Yang lebih menyedihkan lagi, pihak berwenang menyatakan setidaknya 41 orang meninggal dunia dalam musibah ini.
Di pesisir Nha Trang, kota yang terkenal dengan pantai-pantainya yang masih asri itu, situasinya benar-benar kacau. Blok-blok kota terendam sepenuhnya. Ratusan mobil terparkir pun tak berkutik, menjadi mangsa banjir yang menggenangi segala sesuatu.
Bui Quoc Vinh, seorang pemilik bisnis berusia 45 tahun, mengaku masih bisa bernapas lega karena apartemennya di lantai 24 masih aman. Namun, nasib berkata lain untuk usaha yang ia rintis.
"Saya khawatir dengan furnitur di restoran dan toko saya, tetapi tentu saja saya tidak bisa berbuat apa-apa sekarang," keluhnya.
Kekhawatirannya tak hanya berhenti di sana. Para stafnya justru menghadapi masalah yang lebih besar. Rumah mereka terendam banjir dengan ketinggian air yang mencapai dua meter. "Saya rasa air tidak akan segera surut karena hujan belum berhenti," tambahnya dengan nada pesimis.
Sementara itu, di provinsi Gia Lai dan Dak Lak bagian tengah, aksi penyelamatan berlangsung dengan penuh tekanan. Tim penyelamat yang menggunakan perahu terpaksa membuka paksa jendela dan bahkan memecahkan atap rumah untuk menolong warga yang terdampar. Adegan dramatis ini terjadi pada hari Rabu, seperti yang dilaporkan oleh media pemerintah setempat.
Korban jiwa terus berjatuhan. Data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup pada Kamis (20/11) menyebutkan, setidaknya 41 orang tewas di enam provinsi sejak Minggu (16/11). Pencarian terhadap sembilan orang lainnya yang masih dinyatakan hilang pun terus dilakukan tanpa henti.
Skala kerusakannya benar-benar luas. Lebih dari 52.000 rumah terendam, memaksa hampir 62.000 orang harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Beberapa jalan utama masih terblokir akibat tanah longsor yang terjadi di mana-mana. Belum lagi satu juta pelanggan yang harus merasakan hidup tanpa listrik, seperti yang diumumkan oleh Kementerian.
Tanah longsor yang mematikan juga melanda jalur dataran tinggi di sekitar Dalat, pusat wisata lainnya. Menurut catatan biro cuaca nasional, beberapa daerah bahkan mengalami curah hujan yang ekstrem, mencapai 600 milimeter sejak akhir pekan lalu.
Vu Huu Son, seorang pemilik hotel berusia 56 tahun, menggambarkan betapa terisolasinya kawasan itu. Hampir semua jalan menuju kota tertutup oleh longsor, hanya tersisa satu jalur yang bisa dilalui.
"Saya rasa sekarang tidak ada wisatawan karena mereka semua pergi pada akhir pekan sebelum hujan dan juga membatalkan tur mereka di sini," ujarnya, menggambarkan betapa sepi dan terpukulnya sektor pariwisata lokal.
Artikel Terkait
Trump Peringatkan Netanyahu: Israel Bisa Berjuang Sendirian Jika Perang dengan Iran Berlanjut
Ole Romeny Dinobatkan sebagai Pemain Terusung Usai Gol Tunggal Bawa Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik
Kebakaran Hanguskan Satu Dermaga dan Lima Speed Boat di Kayong Utara, Penyebab Masih Diselidiki
Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,5 Persen, Rupiah dan Cadangan Devisa Terus Tertekan