STIK Lemdiklat Polri Gelar FGD Reposisi Ilmu Kepolisian untuk Tantangan Global

- Rabu, 19 November 2025 | 11:40 WIB
STIK Lemdiklat Polri Gelar FGD Reposisi Ilmu Kepolisian untuk Tantangan Global
Reposisi Ilmu Kepolisian Menghadapi Tantangan Abad ke-21

STIK Lemdiklat Polri Gelar FGD Reposisi Ilmu Kepolisian untuk Tantangan Global

Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk 'Reposisi Ilmu Kepolisian dalam Literatur Abad ke-21'. Forum strategis ini menghadirkan akademisi, alumni doktoral STIK, dan mahasiswa program S3 dalam upaya merumuskan arah baru pengembangan ilmu kepolisian nasional.

Irjen Eko Rudi Sudarto, Ketua STIK Lemdiklat Polri, menegaskan pentingnya pendekatan transdisipliner yang mengintegrasikan ilmu sosial, hukum, teknologi, ilmu alam, dan nilai-nilai kemanusiaan. "Di tengah kompleksitas kejahatan modern dan derasnya arus disinformasi, ilmu kepolisian memerlukan fondasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang kuat," tegasnya.

Tiga Pilar Pengembangan Ilmu Kepolisian

Irjen Eko menguraikan visi pengembangan ilmu kepolisian melalui tiga kerangka utama: science of police, science of policing, dan science for police. Kurikulum pendidikan dirancang berbasis outcome-based education dengan lulusan yang diharapkan menjadi critical thinker, ethical leader, dan digital-ready officer.

"Riset harus evidence-based dan multidisipliner, sementara lulusan harus mampu memadukan kecerdasan akademik, kepekaan moral, dan keunggulan profesional," tegas Irjen Eko.

Tantangan dan Peluang Police Science

Kombes Dedy Tabrani, Ketua Perkumpulan Doktor Ilmu Kepolisian (DIKPI), mengidentifikasi kesenjangan antara klaim pengembangan police science dengan praktik akademik di Indonesia. Meskipun secara global police science belum diakui sebagai disiplin mandiri, kondisi ini justru membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan model ilmu kepolisian yang komprehensif.

"Reposisi ilmu kepolisian tidak cukup pada perdebatan definisi, tetapi harus dibarengi pembangunan ekosistem ilmiah yang kuat melalui kurikulum konsisten, standar metodologi terukur, dan budaya riset yang solid," papar Kombes Dedy.

Perspektif Historis dan Global

Prof Adrianus Meliala menganalisis perkembangan historiografi kepolisian global sejak abad ke-17. Menurutnya, dinamika kepolisian selalu dibentuk oleh perubahan masyarakat, teknologi, politik, dan relasi polisi-komunitas.

"Pendidikan kepolisian Indonesia yang banyak merujuk model Amerika Serikat perlu penyesuaian agar lebih sesuai dengan kebutuhan sosial Indonesia," ujar Adrianus.

Dr G. Ambar Wulan melengkapi dengan tinjauan historis pendidikan kepolisian Indonesia sejak era Hindia Belanda hingga berdirinya PTIK pada 1950. Dia menilai pengembangan ilmu kepolisian selama ini cenderung pragmatis dan kurang menekankan pembangunan metodologi ilmiah yang kuat.

Forum FGD menghasilkan konsensus tentang perlunya penguatan ekosistem riset, kurikulum berbasis kompetensi, dan kolaborasi internasional untuk melahirkan bhayangkara cendekia yang intelektual, berintegritas, dan adaptif terhadap tantangan digital. STIK Lemdiklat Polri bersama DIKPI berkomitmen memperkuat landasan akademik dan metodologi ilmiah ilmu kepolisian sebagai bagian dari upaya membangun Polri yang profesional, modern, dan akuntabel.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar