Kisah Sukses Fatimah: Dari Penerima Bansos PKH Menjadi Mandiri Setelah Graduasi
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, menghadiri acara kelulusan 1.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Pendopo Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Dalam acara yang penuh makna ini, Gus Ipul berdialog secara langsung dengan salah seorang wisudawati, Fatimah Tulzahro, yang telah menjadi penerima bantuan sosial PKH sejak tahun 2020.
Fatimah menceritakan pengalamannya dalam proses seleksi penerima bansos. "Saya mendapatkan PKH melalui jalur seleksi yang ketat. Dari beberapa ratus orang yang diundang di satu desa, Alhamdulillah saya adalah salah satu yang berhasil lolos," ujar Fatimah.
Sebelumnya, Fatimah berprofesi sebagai pedagang kantin di sebuah sekolah di Pemalang, sementara suaminya bekerja sebagai tukang kebun di tempat yang sama. Terdesak oleh situasi pandemi Covid-19, Fatimah sempat beralih pekerjaan menjadi asisten rumah tangga. Namun, setelah lima tahun mengikuti program pemberdayaan dari Kementerian Sosial, kehidupan Fatimah berubah. Kini, ia dinyatakan lulus dari program bansos dan telah mampu hidup secara mandiri.
Dialog Inspiratif antara Mensos dan Penerima Bansos
Dalam dialog tersebut, Gus Ipul memberikan apresiasi dan bertanya langsung kepada Fatimah tentang kesiapannya untuk lulus dari program PKH. "Ibu sudah siap betul graduasi?" tanya Gus Ipul. Dengan penuh keyakinan, Fatimah menjawab, "Siap. Insyaallah."
Gus Ipul kemudian meminta masukan berharga dari Fatimah. Ia menekankan bahwa umpan balik dari masyarakat penerima manfaat sangat penting untuk perbaikan kinerja pemerintah. "Sekarang apa nasihat Ibu untuk Menteri Sosial? Pejabat-pejabat ini harus dinasihati oleh Ibu," pinta Gus Ipul.
Pentingnya Transparansi Seleksi Penerima Bantuan Sosial
Menanggapi permintaan tersebut, Fatimah menyampaikan harapannya agar proses seleksi penerima bansos PKH bisa lebih transparan ke depannya. Hal ini bertujuan untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan menghilangkan keraguan di masyarakat.
"Apa sih standar penerima bantuan PKH itu? Kami mendapatkan PKH karena pilihan dari pemerintah, namun beberapa tetangga sempat mempertanyakan. Mohon ke depannya benar-benar diseleksi kembali siapa yang berhak dan yang tidak, agar tidak ada lagi rasa sungkan bagi penerima seperti kami," jelas Fatimah dengan lugas.
Gus Ipul merespons positif masukan ini. Ia menyatakan bahwa kritik yang disampaikan dengan jujur harus dihormati dan ditindaklanjuti. "Bagus, nasihatnya bagus sekali. Apa yang ada di dalam hati, itu sesuatu yang harus kita hormati," tegas Mensos, disambut tepuk tangan para hadirin.
Kisah Fatimah dari Pemalang ini menjadi bukti nyata bahwa Program Keluarga Harapan tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek, tetapi juga mampu memberdayakan masyarakat untuk mencapai kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.
Artikel Terkait
Korban Banjir Bandang Aceh Utara: Kuburan Orang Tua Saya pun Hilang
Israel Setujui Proposal Kontroversial Klaim Lahan di Tepi Barat, Palestina Kecam sebagai Aneksasi
NU di Akar Rumput: Moderasi sebagai Jargon, Tantangan Nyata di Lapangan
Data Cek Kesehatan Gratis DKI Ungkap 93% Warga Jakarta Kurang Aktivitas Fisik