Di sisi lain, Gubernur Pramono juga menyampaikan adanya aspirasi berbeda dari para siswa. Beberapa di antaranya justru meminta agar pembelajaran segera dilaksanakan secara tatap muka. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa kondisi sekolah sudah aman dan pulih pasca ledakan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun memberikan kebebasan penuh kepada siswa. "Kepala Dinas Pendidikan sudah menyampaikan, memberikan kebebasan. Yang mau daring boleh, yang mau langsung juga boleh dan ternyata mereka kebanyakan meminta untuk secara langsung," ujar Pramono di Sunter, Jakarta Utara.
Namun, permintaan pindah sekolah akibat trauma tetap menjadi perhatian serius. Pramono meminta jajarannya untuk segera merumuskan solusi terbaik agar dampak psikologis ini tidak berkepanjangan. Rencananya, sekolah akan mengadakan pertemuan dengan seluruh murid dan guru untuk memberikan pilihan metode belajar, apakah akan melanjutkan secara daring atau kembali ke sekolah tatap muka.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan para siswa SMAN 72 Jakarta dapat melalui masa pemulihan dengan baik dan kembali menjalani aktivitas belajar dengan nyaman dan aman.
Artikel Terkait
Program Air Bersih Perindo Ubah Hidup Warga di Dusun Watuliwung, Sikka
Polri Ungkap Modus Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi dalam Operasi Dua Tahun
Trump Umumkan Gencatan Senjata Dua Pekan dengan Iran, Bergantung Pembukaan Selat Hormuz
Dua Pencopet di Stasiun Jatinegara Ditangkap Berkat Rekaman Warga