Pertemuan Bersejarah: Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa Bertemu Trump di Gedung Putih
Washington DC menjadi saksi sebuah momen bersejarah, Senin (10/11), ketika Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa, melakukan kunjungan pertamanya ke Gedung Putih untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pertemuan tingkat tinggi ini menandai pertama kalinya seorang pemimpin Suriah menginjakkan kaki di kantor eksekutif AS.
Dalam sebuah pernyataan singkat, Gedung Putih mengonfirmasi, "Presiden Suriah sudah tiba di Gedung Putih, pertemuan dengan Presiden Trump tengah berlangsung." Berbeda dengan pertemuan kenegaraan pada umumnya, acara ini digelar secara tertutup dan sama sekali tidak mengizinkan kehadiran media untuk meliput.
Transformasi Figur Ahmad al-Sharaa
Latar belakang Ahmad al-Sharaa menjadi salah satu poin yang paling menarik untuk dikaji. Ia sebelumnya dikenal sebagai pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS), sebuah kelompok yang pernah tercatat dalam daftar organisasi teroris global oleh Departemen Luar Negeri AS pada 2014. Status teroris tersebut akhirnya dicabut oleh pemerintah AS pada tahun 2025.
Langkah pencabutan status ini didahului oleh komentar positif dari Presiden Trump mengenai kinerja al-Sharaa. Trump menyatakan, "(al-Sharaa) telah melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Mereka (Suriah) ada di kawasan yang keras, dan dia itu orang kuat. Tapi, saya bisa bekerja sama dengannya, banyak progres yang ia sudah buat untuk Suriah."
Upaya Transformasi dan Moderasi Suriah
Sejak berhasil menggulingkan rezim Bashar al-Assad, Ahmad al-Sharaa disebut-sebut aktif berupaya mentransformasi wajah Suriah menjadi lebih moderat dan meninggalkan masa lalu yang penuh dengan kekerasan. Komitmen ini salah satunya diwujudkan melalui komposisi kabinetnya.
Pada Maret 2025, al-Sharaa mengangkat Hind Kabawat, seorang figur dengan latar belakang Kristen, untuk menduduki posisi Menteri Sosial dan Tenaga Kerja. Ia juga mempercayakan portofolio penting kepada Mohammed Yosr Bernieh sebagai Menteri Keuangan. Selain itu, dua nama dari era rezim sebelumnya, Murhaf Abu Qasra dan Asaad al-Shibani, kembali ditugaskan untuk memimpin Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan.
Kerja Sama Strategis AS-Suriah
Pertemuan ini juga menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis yang signifikan. Suriah menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan Amerika Serikat dalam operasi militer bersama untuk menumpas sisa-sisa kelompok ISIS. Tidak hanya itu, pemerintah al-Sharaa juga menyetujui rencana AS untuk membangun sebuah markas militer di kawasan dekat Damaskus.
Menurut seorang diplomat Suriah, pembangunan markas ini bertujuan "untuk mengkoordinasikan bantuan kemanusiaan, dan mengobservasi perkembangan antara Suriah dan Israel." Sebagai imbalan dari berbagai kerja sama ini, Suriah diharapkan akan menerima bantuan dana dari AS yang sangat dibutuhkan untuk membangun kembali negara yang telah hancur setelah dilanda perang sipil selama 13 tahun.
Bukti keseriusan pembicaraan bantuan ini terlihat dari agenda padat al-Sharaa. Setibanya di Washington, ia langsung mengadakan pertemuan dengan Pimpinan IMF, Kristalina Georgieva, untuk membahas kemungkinan realisasi bantuan keuangan tersebut bagi rekonstruksi Suriah.
Artikel Terkait
Megawati Raih Doktor Honoris Causa dari Universitas Perempuan Terbesar di Dunia
Megawati Raih Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Perempuan Terbesar di Arab Saudi
BMKG Makassar Imbau Waspada Hujan dan Angin Kencang di Sulsel Besok
Polres Padang Pariaman Gagalkan Penyelundupan 7 Kg Sabu di Bandara Minangkabau