Krisis Kepercayaan Publik: Mengapa Politisi Kini Dijauhi Rakyat?

- Rabu, 05 November 2025 | 16:20 WIB
Krisis Kepercayaan Publik: Mengapa Politisi Kini Dijauhi Rakyat?

Politik Kehilangan Makna: Refleksi Krisis Kepercayaan Publik

Oleh: Peter F. Gontha (Petinggi NasDem)

Dalam sebuah percakapan dengan senior partai politik besar, terungkap keprihatinan mendalam: "Sekarang, politisi bahkan anggota DPR sudah menjadi cemooh, bahkan musuh masyarakat."

Pernyataan ini menyadarkan kita pada realitas politik Indonesia saat ini. Mengapa para wakil rakyat justru dijauhi oleh rakyat? Apakah politik kita telah kehilangan makna sebenarnya?

Fenomena krisis kepercayaan publik terhadap politisi dan partai politik semakin nyata. Rakyat bukanlah pihak yang mudah dibodohi mereka menyaksikan langsung janji-janji yang tak terpenuhi, retorika indah yang berujung pada kepentingan pribadi, dan praktik politik yang jauh dari nilai-nilai keteladanan.

Meskipun demikian, masih ada segelintir politisi yang bekerja dengan tulus dan tanpa pamrih. Sayangnya, kontribusi mereka sering tenggelam dalam hiruk-pikuk politik pencitraan yang mendominasi ruang publik.

Pertanyaan mendasar perlu diajukan: Apakah partai politik masih relevan mengutamakan simbolisme seperti bendera dan logo? Atau justru rakyat telah jenuh dengan wajah-wajah yang sama yang menghiasi setiap sudut kota?

Sudah saatnya evaluasi mendalam dilakukan. Waktunya telah tiba untuk beralih dari memamerkan bendera menuju membangun kepercayaan. Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak poster atau slogan, melainkan lebih banyak keteladanan dan kejujuran dalam praktik berpolitik.

Kita harus kembali kepada esensi politik yang sesungguhnya bukan politik sebagai alat kekuasaan, tetapi politik sebagai sarana membangun bangsa dan mensejahterakan rakyat.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar