Tingkat okupansi yang stagnan di kisaran 60% hingga Oktober 2025 membuktikan ketidakefektifan proyek dalam mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Pertanyaan tentang keuntungan sosial yang dijanjikan pun mengemuka.
Skema Keuangan yang Merugikan Negara
Skema keuangan Whoosh dinilai menjadikan negara sebagai penanggung kerugian. Pernyataan Menteri Keuangan yang menolak penggunaan APBN untuk menutup utang KCIC menjadi tamparan keras bagi model pembangunan yang tidak transparan.
Pola keuntungan untuk swasta dan kerugian untuk negara dianggap sebagai praktik ekonomi yang tidak sehat dan merugikan kepentingan publik.
Dampak Geopolitik dan Jebakan Utang
Dalam perspektif geopolitik, ketergantungan pada pinjaman Tiongkok melalui proyek Whoosh mengkhawatirkan. Mulai dari infrastruktur hingga energi, Indonesia berisiko terjebak dalam debt trap yang dapat berimplikasi pada tekanan politik dan ekonomi di masa depan.
Masa Depan Keberlanjutan Whoosh
Klaim bahwa kerugian akan mengecil seiring naiknya penumpang diragukan banyak pihak. Dengan beban bunga, depresiasi, dan biaya operasional tinggi, Whoosh diprediksi tidak akan mencapai efisiensi finansial.
Proyek ini berpotensi menjadi beban berkelanjutan yang menyedot dana BUMN, APBN, dan akhirnya uang rakyat. Setiap kilometer rel yang dibangun dengan utang menjadi beban pajak untuk generasi mendatang.
Whoosh akhirnya tidak hanya menjadi simbol kemajuan, tetapi juga monumen kontroversi kebijakan ekonomi. Di balik narasi investasi sosial tersimpan pertanyaan mendasar tentang prinsip fiskal, transparansi, dan akuntabilitas proyek infrastruktur strategis.
Jakarta, 28 Oktober 2025
Artikel Terkait
Kisah Kiki: Amukan di Bintaro Berakhir dengan Permintaan Maaf
Sangadji: Jangan Bayangkan Sidang, Kasus Ijazah Jokowi Masih Panjang
Abraham Samad Desak Prabowo Kembalikan 57 Pegawai KPK yang Ditendang Lewat TWK Abal-abal
Kota Anjing di Greenland: Di Balik Gonggongan yang Menjaga Warisan Arktik