Proyek Kereta Cepat China vs Jepang: Analisis Dugaan Pemufakatan Jahat
Pengamat Ekonomi Anthony Budiawan mengungkap fakta mengejutkan dalam proyek kereta cepat Indonesia. Dalam acara RAKYAT BERSUARA iNewsTV, Anthony memaparkan data lengkap mengenai perbandingan penawaran proyek kereta cepat antara Jepang dan China.
Fakta Harga Kereta Cepat: China Lebih Mahal Tapi Dipilih
Menurut analisis Anthony Budiawan, proyek kereta cepat awalnya ditawarkan Jepang dengan harga yang lebih kompetitif dan murah. Namun yang terjadi kemudian, proyek justru diberikan kepada China dengan harga yang lebih mahal. Fakta ini menimbulkan berbagai pertanyaan mendasar tentang proses seleksi proyek strategis nasional.
Dugaan Pemufakatan Jahat dalam Proyek Kereta Cepat
Analisis mendalam dari pengamat ekonomi mengungkap adanya indikasi pemufakatan jahat dalam proses pengadaan proyek kereta cepat. Anthony Budiawan secara tegas menyatakan bahwa terdapat pola yang tidak wajar dalam keputusan pemerintah memilih China meskipun dengan penawaran harga yang lebih tinggi dibandingkan Jepang.
Protes Proyek Kereta Cepat China yang Diabaikan
Sejak awal, proyek kereta cepat China ini telah menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Namun menurut Anthony, protes-protes tersebut diabaikan oleh rezim pemerintahan saat itu. Kekuasaan yang berlebihan dinilai menjadi faktor utama mengapa proyek ini tetap dilanjutkan meskipun terdapat banyak pertanyaan yang belum terjawab.
KPK Diharapkan Turun Tangan Selidiki Kasus Kereta Cepat
Berdasarkan analisis dan data yang terungkap, Anthony Budiawan menegaskan bahwa kasus proyek kereta cepat ini seharusnya diselidiki secara mendalam oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan proyek strategis nasional menjadi hal yang mutlak diperlukan.
Video Lengkap Analisis Anthony Budiawan
Simak paparan lengkap Anthony Budiawan mengenai analisis proyek kereta cepat China vs Jepang dalam video berikut:
Artikel Terkait
Mahfud MD Soroti Kecerdikan Strategi Jimly dalam Kasus Etik Anwar Usman
Gubernur Pramono Bergurau dengan JK Saat Pimpin Kerja Bakti Massal Pascabanjir
Bahlil Ingatkan Kader Golkar: Posisi Strategis Bisa Diganti Kapan Saja Jika Tak Perform
Jimly Asshiddiqie Sebut Putusan 90 Jadi Titik Nadir Kredibilitas MK