Seorang dosen tetap non-ASN yang merupakan lulusan S3 dari Australia mengaku hanya menerima gaji sebesar Rp2,6 juta per bulan. Di sisi lain, tunjangan kinerja Kepala Staf Angkatan mencapai Rp48,61 juta. Perbandingan ini memicu pertanyaan tentang kesenjangan penghargaan antara tenaga pendidik dan aparat keamanan di Indonesia.
Fenomena ini mencerminkan ironi dalam sistem penggajian di tanah air. Meskipun pertahanan negara merupakan prioritas, kebijakan yang terus memberi kompensasi lebih tinggi kepada pemegang seragam dibandingkan dengan pemilik otak dikhawatirkan akan menggerus kualitas sumber daya manusia.
Sejumlah pihak menilai bahwa disparitas ini tidak hanya tidak adil, tetapi juga berpotensi menghambat kemajuan bangsa. Jika negara terus menghargai seragam lebih mahal daripada otak, lama-lama Indonesia hanya akan kuat dalam baris-berbaris, bukan dalam inovasi dan pengetahuan.
Artikel Terkait
Kesejahteraan Dosen dan Pelajaran dari Sistem Penggajian India
Gugatan Dosen Unair ke MK: Ketika Otonomi Kampus Diuji