Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah menuai kritik karena dinilai tidak efektif dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Sejumlah kalangan menilai bahwa program ini hanya menyuplai sebagian kecil dari total kebutuhan makan harian, sementara dampaknya justru memicu kenaikan harga bahan pangan.
Dalam hitungan sederhana, satu orang anak membutuhkan makan tiga kali sehari. Jika satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak, maka total kebutuhan makan harian mencapai sembilan kali. Program MBG hanya menyediakan satu porsi dari sembilan kebutuhan tersebut, atau sekitar 11 persen.
"MBG hanya mensuplai 1/9 dari kebutuhan makan harian keluarga. Sedangkan 8/9 bagian yang lain terdampak oleh kenaikan harga bahan makanan imbas adanya MBG," demikian penjelasan yang beredar di kalangan pengamat.
Hitungan tersebut merupakan skenario minimalis dengan asumsi satu keluarga hanya memiliki satu anak. Jika jumlah anak lebih banyak, proporsi yang dipenuhi MBG akan semakin kecil.
Di sisi lain, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: jika program MBG dihentikan, lalu para pejabat dan kroninya akan makan apa? Pertanyaan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa program tersebut lebih menguntungkan pihak-pihak tertentu dibandingkan masyarakat luas.
Artikel Terkait
BGN Mulai Susun Dewan Pengarah Program Makan Bergizi Gratis, Libatkan Pakar Gizi dan Kesehatan
BGN Pastikan Jumlah Penerima dan Anggaran MBG Turun Setelah Refocusing Data
BGN Efisienkan Anggaran Makan Bergizi Gratis Jadi Rp 229 Triliun
Prabowo Beri Waktu Sebulan untuk Sisir Ulang 62,7 Juta Penerima Makan Bergizi Gratis