Seorang aktivis perempuan asal Korea Selatan yang baru dibebaskan dari tahanan Israel menceritakan perlakuan brutal yang dialaminya. Kim Ah-hyun, anggota Global Sumud Flotilla, mengaku dipukuli berulang kali oleh tentara Israel hingga kehilangan pendengaran di satu telinga.
Meski mengalami kekerasan, Kim menyatakan tetap akan mengikuti misi kemanusiaan ke Gaza di masa mendatang sampai blokade Israel berakhir. Ia dan rekannya, Kim Dong-hyeon, termasuk di antara 430 aktivis internasional yang berupaya mengirim bantuan ke Jalur Gaza. Keduanya kembali ke Korea Selatan pada 22 Mei 2026 setelah dibebaskan Israel.
Presiden Korsel Kritik Keras Israel
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung secara terbuka mengecam tindakan Israel dan mempertanyakan legalitasnya menurut hukum internasional. Dalam rapat kabinet, Lee meminta pejabat pemerintah mempertimbangkan kemungkinan penerbitan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait penyitaan armada bantuan yang membawa warga Korea Selatan.
Lee juga menyinggung proses hukum terhadap Netanyahu di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan menyebut sejumlah negara Eropa telah mengambil langkah serupa. “Ada norma-norma internasional minimum, dan Israel melanggar semuanya,” kata Lee, dikutip media lokal. Ia mempertanyakan kewenangan hukum Israel dalam menyita kapal yang beroperasi di luar wilayah perairannya serta meminta pejabat memeriksa apakah armada tersebut melintasi batas maritim internasional.
Artikel Terkait
Serangan Israel di Gaza Tewaskan 12 Orang, Enam di Antaranya Satu Keluarga
Israel dan Yordania Bersama Cegat Rudal Iran yang Diarahkan ke Aqaba
Israel Izinkan Buaya Hidup untuk Jaga Penjara Tahanan Palestina
Bantuan Militer AS ke Israel di Bawah Sorotan: 104 Anggota Kongres Usulkan Pemotongan