Pesantren Elkisi Bangun Masjid Empat Lantai dan Kirim 127 Santri ke Al-Azhar

- Minggu, 19 Juli 2026 | 17:50 WIB
Pesantren Elkisi Bangun Masjid Empat Lantai dan Kirim 127 Santri ke Al-Azhar

Lebih dari 5.000 jamaah memadati lapangan Pesantren Elkisi di Mojokerto pada Ahad, 19 Juli 2026, dalam acara Silaturahim Nasional XIII dan Tablig Akbar. Mereka datang dari berbagai daerah dan organisasi Islam, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Dewan Dakwah, serta komunitas dakwah lainnya. Suasana berlangsung semarak namun tetap khidmat, mencerminkan kuatnya semangat ukhuwah Islamiyah.

Direktur Pesantren Elkisi, KH Fathur Rohman, dalam sambutannya mengisahkan perjalanan panjang pembangunan pesantren yang sepenuhnya bertumpu pada kekuatan umat. Seluruh pembangunan dilakukan melalui infak, wakaf, dan donasi jamaah pengajian tanpa bantuan dana dari pemerintah. "Kami tidak ingin memberatkan pemerintah dalam pembangunan gedung di Pesantren Elkisi ini," ujarnya. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah beberapa kali menawarkan bantuan pembangunan, termasuk perpustakaan, namun tawaran tersebut ditolak demi menjaga kemandirian pesantren.

Membangun Masjid Empat Lantai

Kiai Fathur menjelaskan bahwa Pesantren Elkisi tengah membangun masjid empat lantai yang saat ini baru mencapai lantai dua. "Untuk menyelesaikan lantai dua saja kami sudah ngos-ngosan. Mudah-mudahan nanti ada bapak dan ibu yang berkenan berpartisipasi agar lantai tiga dan empat dapat segera dibangun," tuturnya. Lantai keempat nantinya dirancang menjadi laboratorium astronomi. Elkisi ingin melengkapi fasilitas pendidikan sains yang telah dimiliki, seperti laboratorium biologi, fisika, dan kimia. "Kami ingin memiliki laboratorium astronomi agar para santri dapat mempelajari benda-benda langit dan planet sebagai bagian dari penguatan ilmu pengetahuan," katanya.

Mengenang awal berdirinya pesantren sekitar 15 tahun silam, KH Fathur mengatakan bahwa saat itu Elkisi nyaris tidak memiliki apa pun selain niat dan tekad. "Modal kami hanya niat dan tekad. Guru saya selalu mengajarkan, apabila kita melakukan sesuatu karena Allah Swt., maka Allah akan memberikan kemudahan dan jalan keluar." Nasihat itu selalu ia pegang. Ia pun mengingatkan jamaah akan firman Allah Swt. dalam Surah Muhammad ayat 7: "Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." "Janji Allah itu pasti. Pondok ini dibangun untuk memperjuangkan agama Allah. Karena itu, kami yakin Allah pasti akan menolong," ujarnya disambut tepuk tangan jamaah. Ia juga menegaskan bahwa jika niat semata-mata karena Allah Swt., tidak ada alasan untuk takut miskin.

Menjadi Cabang Resmi Al-Azhar Kairo

Salah satu capaian besar Pesantren Elkisi adalah terjalinnya kerja sama resmi dengan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. KH Fathur menceritakan bahwa dirinya merupakan lulusan perguruan tinggi dalam negeri dari jenjang S-1 hingga S-3. Namun, ia bercita-cita agar para santrinya mampu menembus perguruan tinggi terbaik dunia. Keinginan itu dipertemukan Allah Swt. dengan Syekh Ahmad di Mesir saat ia mengurus putranya yang sedang belajar di Al-Azhar. Tiga bulan setelah pensiun, Syekh Ahmad bahkan datang ke Indonesia untuk membantu pengembangan Elkisi. Melalui hubungan itulah Pesantren Elkisi resmi menjadi cabang Pesantren Al-Azhar Kairo. "Dengan status ini, santri Elkisi yang ingin melanjutkan studi ke Al-Azhar memperoleh kemudahan. Di Elkisi sendiri kurikulum Al-Azhar sudah diterapkan," jelasnya. Bagi masyarakat umum yang ingin melanjutkan studi ke Al-Azhar, pesantren membuka program Markaz al-Lughah Elkisi sebagai pusat pembelajaran bahasa Arab.

Program pengiriman santri ke Al-Azhar terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. "Tahun lalu kami memberangkatkan 75 santri. Tahun ini, insya Allah, sebanyak 127 santri akan berangkat ke Al-Azhar dan akan kami antar pada bulan Agustus." Pesantren juga memberikan beasiswa kepada santri Elkisi yang melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar.

Dakwah Menjadi Prioritas

Menurut KH Fathur, dakwah harus menjadi prioritas utama pendidikan pesantren. Ia mengaku memperoleh banyak pengakuan dari para santri dan alumni yang telah berdakwah di berbagai daerah, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste. Kedua wilayah tersebut akan dijadikan laboratorium dakwah bagi Pesantren Elkisi. "Santri Elkisi apa pun profesinya nanti, mereka tidak boleh melupakan dakwah." Untuk mendukung tujuan itu, Elkisi berupaya mempercepat proses pendidikan sehingga para santri memiliki waktu lebih banyak untuk mengabdi. Tiga bulan setelah ini, pesantren akan mengirim santri untuk berdakwah selama dua bulan ke berbagai daerah seperti NTT, Timor Leste, Ambon, Kalimantan, dan Maluku. "Mereka boleh menjadi tentara, polisi, profesional, atau apa pun. Tetapi, mereka tetap seorang dai." Ia membayangkan setiap kabupaten memiliki generasi muda yang bekerja sesuai profesi pada pagi hari, tetapi tetap mengajar mengaji dan berdakwah pada malam hari.

KH Fathur menegaskan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar masjid. Karena itulah Elkisi juga mengembangkan Pesantren Sepak Bola, sebuah konsep yang masih sangat langka di Indonesia. Ia terinspirasi oleh sosok Ustaz Rusdi Bahalwan, mantan pemain Persebaya yang kemudian menjadi pelatih sekaligus dai. "Saya berpikir dakwah itu multidimensi. Melalui sepak bola pun akan lahir para dai di lapangan." Menurutnya, jumlah masyarakat yang berkumpul di lapangan sepak bola sering kali jauh lebih besar dibandingkan jamaah di masjid. "Anak-anak berkumpul di lapangan. Di situlah dakwah juga harus hadir."

Di penghujung sambutannya, KH Fathur menyampaikan prinsip hidup yang selalu ia pegang teguh. "Kalau tujuan kita benar, Allah pasti akan memudahkan. Kalau kita berhasil, itu keberhasilan yang luar biasa. Kalaupun jatuh, kita tetap belajar. Kami tidak pernah merasa gagal." Ia kembali menegaskan potongan ayat "In tanshurullaha yanshurkum" yang bermakna jika kita menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita.

Menyiapkan Rumah Lansia dan Area Pemakaman

Sebagai bagian dari pengembangan jangka panjang, Pesantren Elkisi telah menyiapkan lahan seluas 1,4 hektare untuk pembangunan rumah lansia. Selain itu, sebagian lahan pesantren juga akan digunakan sebagai area pemakaman khusus. "Terutama bagi para penyokong pertama pondok ini, para anggota Majelis Syura, serta para pimpinan yang telah mengabdikan hidupnya untuk Elkisi." Melalui berbagai program tersebut, Pesantren Elkisi menunjukkan komitmennya dalam membangun lembaga pendidikan yang mandiri dan berorientasi dakwah. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan generasi muslim yang unggul dalam ilmu pengetahuan, berkarakter, dan siap mengabdi kepada umat.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags