Korupsi Proyek MBG dan KDMP: Presiden Dinilai Mabuk Pujian, Pengawasan Lemah

- Sabtu, 18 Juli 2026 | 10:40 WIB
Korupsi Proyek MBG dan KDMP: Presiden Dinilai Mabuk Pujian, Pengawasan Lemah

Kasus korupsi di proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kawasan Demokrasi Masyarakat Pedesaan (KDMP) serta sejumlah proyek lain yang melibatkan orang-orang kepercayaan presiden mulai terbongkar. Pengamat menilai para pelaku bertindak dengan percaya diri karena mengetahui presiden hanya peduli pada program yang berjalan dan tidak mau repot menanyakan detail pelaksanaan. Yang terpenting bagi presiden adalah mendengar bahwa semua program yang ia inisiasi berhasil.

Para pelaku korupsi disebut memahami psikologi presiden yang memiliki obsesi kronis untuk terlihat hebat, seperti seorang penyelamat bangsa. Mereka tahu presiden senang dipuji dan bisa melakukan apa saja asalkan tahu cara menjilat. Sebuah buku berjudul "Presiden Solusi" bahkan sudah terbit sebagai bentuk puja-puji.

Dengan fokus pada kemegahan diri sendiri misalnya pernyataan "banyak pemimpin dari negara lain ingin belajar dari kita" atau "tidak ada dalam sejarah..." presiden cenderung mengabaikan detail proses dan tidak peduli mekanisme pengawasan. Para pembantunya memanfaatkan situasi ini dengan menyajikan seremoni peresmian yang wah, foto-foto keberhasilan di lapangan, dan laporan yang melenakan. Akibatnya, mereka bisa memanfaatkan program apa pun untuk korupsi dan mark-up.

Mereka hanya perlu menunjukkan loyalitas buta dan terus-menerus mengarang kabar baik. Para pengkritik akan ditangani oleh presiden sendiri dan disuruh mencari negara lain.

Sistem kepemimpinan seperti ini, dengan para pendukung berebut menjilat dan menjarah, serta mekanisme kontrol yang sangat lemah karena tidak ada yang berani melaporkan bahwa program-program presiden sedang digerogoti praktik culas, pada waktunya akan memperlihatkan keburukannya sendiri. Orang-orang di sekitar presiden akan saling sikut.

Kasus korupsi di program MBG dan KDMP terbongkar bukan karena fungsi pengawasan ketat dan pertanggungjawaban transparan. Kasus-kasus itu muncul ke permukaan secara alami, mirip bom waktu yang meledak ketika tiba waktunya. Ada yang mengeruk banyak, ada yang hanya kecipratan sedikit, dan ada yang sakit hati lalu memberikan bocoran ke media massa atau mengomel di podcast. Publik kemudian meramaikannya di media sosial.

Kasusnya nanti akan diredam, isunya dialihkan, dan kita kehilangan jejak. Berkali-kali seperti itu, dalam banyak kasus. Kita tidak tahu, misalnya, bagaimana kabar Nanik S. Deyang setelah namanya disebut-sebut oleh Sony Sonjaya, tersangka korupsi di Badan Gizi Nasional, dan ditaruh di tempat teratas dalam deretan orang-orang korup yang ikut menjarah program MBG. Kejaksaan Agung sekali lagi menolak permohonan Sony Sonjaya untuk menjadi justice collaborator dalam kasus korupsi di program yang paling disayangi presiden ini.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags