Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan kajian terkait wacana penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa dari keluarga desil 8, 9, dan 10 selesai dalam waktu maksimal satu bulan. Saat ini, pemerintah masih menyusun mekanisme pelaksanaan, termasuk penentuan sekolah dan kelompok penerima manfaat.
Wakil Kepala BGN, Trenggono, menyatakan bahwa kajian masih berlangsung. “Ya itu masih kita lagi kaji lagi. Memang sudah ada wacana, tapi masih kita kaji lagi,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (17/7). Ia menambahkan, hasil kajian akan disampaikan setelah rampung. Trenggono belum merinci mekanisme penentuan sekolah yang akan menerapkan kebijakan tersebut. Seluruh skema masih dibahas pemerintah. “Ya gitu. Nanti semua ini masih kita adakan pengkajian dulu. Nanti sudah selesai nanti akan disampaikan,” tuturnya.
Sebelumnya, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari memastikan siswa dari keluarga desil 8, 9, dan 10 tidak lagi menjadi penerima MBG. Namun, pemerintah masih mengkaji skema pelaksanaan di sekolah yang memiliki siswa dari berbagai kelompok ekonomi. Hal itu disampaikan Agustina usai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/7). Menurutnya, rapat membahas penajaman sasaran penerima manfaat MBG agar bantuan tepat sasaran. “Tadi ada diskusi-diskusi di dalam bahwa untuk mereka yang katakanlah ada di desil 8, 9, 10 yang mapan, kaya, kaya sekali, itu memang tidak akan diberikan lagi,” kata Agustina.
Meski demikian, pemerintah masih membahas dinamika di lapangan, seperti sekolah yang komposisi siswanya terdiri dari kelompok penerima dan non-penerima. Agustina menjelaskan, dalam rapat muncul berbagai usulan dari kementerian dan lembaga. Presiden Prabowo meminta seluruh kebijakan dikaji menyeluruh sebelum diputuskan. Menurutnya, Presiden menilai penyusunan kebijakan MBG harus hati-hati karena program telah menjangkau puluhan juta penerima. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah dampak psikologis jika dalam satu sekolah ada siswa yang menerima MBG dan ada yang tidak. “Jadi seperti tadi, misalnya ada sekolah negeri atau sekolah apa, yang ada muridnya katakanlah 50 persen desilnya menengah sedikit ke bawah, menengah sedikit ke atas, kan berarti nanti jangan sampai ada yang menerima, ada yang tidak. Pertimbangkan secara psikologis, pertimbangkan dari aspek ini, pertimbangkan dari aspek ini,” ujar dia.
Artikel Terkait
BGN Bantah Hentikan Program Makan Bergizi Gratis Secara Permanen
DPR Minta Badan Gizi Nasional Fokus Benahi Tata Kelola, Jangan Bikin Masalah Baru
Komisi IX Pertanyakan Opini WTP BGN yang Tak Sejalan dengan Serapan Anggaran
Badan Gizi Nasional Akui Tunggakan Rp 1,6 Triliun, Didominasi Pembangunan Dapur MBG