Argentina Terancam Sanksi FIFA Usai Pemain Kibarkan Spanduk Klaim Malvinas

- Kamis, 16 Juli 2026 | 07:40 WIB
Argentina Terancam Sanksi FIFA Usai Pemain Kibarkan Spanduk Klaim Malvinas

Timnas Argentina menghadapi potensi sanksi disipliner dari FIFA setelah sejumlah pemainnya membentangkan spanduk bertuliskan 'Las Malvinas son Argentinas' (Las Malvinas adalah milik Argentina) usai mengalahkan Inggris 2-1 di semifinal Piala Dunia 2026, Selasa (14/7) waktu setempat.

Insiden terjadi di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta. Beberapa pemain, termasuk bek Manchester United Lisandro Martínez dan gelandang Giovani Lo Celso, terlihat memegang spanduk putih bertuliskan hitam tersebut saat merayakan kemenangan. Spanduk itu diduga dilempar suporter dari tribun.

FIFA melarang keras atribut bermuatan politik di dalam stadion. Aturan tersebut tertuang dalam Kode Etik Stadion FIFA dan regulasi peralatan pemain IFAB. Pelanggaran otomatis akan diteruskan ke komite disiplin FIFA.

Ini bukan pertama kalinya Argentina bersengkursi dengan FIFA soal spanduk Malvinas. Pada 2014, FIFA mendenda federasi sepak bola Argentina (AFA) sebesar 30.000 franc Swiss (sekitar Rp500 juta) karena aksi serupa sebelum laga persahabatan melawan Slovenia.

Sanksi Finansial Menanti

Berdasarkan preseden, AFA kemungkinan besar akan dijatuhi denda finansial. Namun, keputusan resmi dan besaran denda biasanya baru diumumkan setelah turnamen berakhir agar tidak mengganggu pertandingan yang tersisa.

Sengketa Malvinas yang Panjang

Las Malvinas atau Kepulauan Falkland adalah wilayah di Samudra Atlantik Selatan yang telah diperebutkan Argentina dan Inggris selama hampir dua abad. Inggris menguasai secara de facto sejak 1833, sementara Argentina mengklaimnya sebagai warisan dari Spanyol. Sengketa ini memicu Perang Malvinas pada 1982 yang berlangsung 74 hari dan dimenangkan Inggris.

Argentina mendasarkan klaimnya pada konstitusi yang sejak 1992 mewajibkan pemerintah memperjuangkan kembali kedaulatan Malvinas. Sementara itu, Inggris berpegang pada prinsip penentuan nasib sendiri penduduk setempat yang mayoritas memilih tetap menjadi bagian dari Inggris dalam referendum.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags