Pertandingan Mesir vs Argentina: Kontroversi VAR dan Simbol Perlawanan Palestina

- Sabtu, 11 Juli 2026 | 12:50 WIB
Pertandingan Mesir vs Argentina: Kontroversi VAR dan Simbol Perlawanan Palestina

Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA antara Mesir dan Argentina di Atlanta pada Selasa lalu menjadi salah satu laga paling kontroversial dalam turnamen ini. Bukan hanya karena keputusan wasit yang dipertanyakan, tetapi juga karena dampak politik yang menyertainya.

Setelah unggul 1-0 atas juara bertahan, gol kedua Mesir dianulir secara kontroversial. Sementara itu, permintaan mereka untuk meninjau ulang gol Argentina melalui video ditolak. Banyak penggemar dan pengamat menilai teknologi Video Assistant Referee (VAR) digunakan secara tidak konsisten. Kekalahan Mesir 3-2 pun dianggap tidak adil.

Pelatih Mesir, Hossam Hassan, secara terbuka menyebut pertandingan itu tidak adil. Ia bahkan menyiratkan bahwa FIFA menginginkan Argentina dan bintang globalnya, Lionel Messi, melaju lebih jauh. Asosiasi Sepak Bola Mesir pun mengajukan keluhan resmi pada hari Rabu.

Namun, di balik kontroversi lapangan, ada narasi yang lebih besar. Laga ini menjadi penanda terbaru dari perjuangan Palestina yang kian merasuk ke dunia olahraga. Sikap terhadap Israel dan Palestina kini kerap dijadikan ukuran integritas politik dan moral.

Palestina Hadir Sebelum Pertandingan Dimulai

Menjelang laga, Hossam Hassan menggunakan platformnya untuk menyoroti penderitaan rakyat Palestina. Setelah kemenangan pertama Mesir di fase gugur pada 3 Juli, ia mengibarkan bendera Palestina di lapangan dan mendedikasikan kemenangan itu untuk Palestina dalam konferensi pers. Sehari sebelum melawan Argentina, ia kembali menyampaikan pidato emosional.

"Siapa pun yang tidak merasakan belas kasih terhadap rakyat Palestina, bukanlah manusia," kata Hassan.

Politik Israel-Palestina juga terasa di kalangan penonton. Di Gaza, warga Palestina mengibarkan bendera Mesir dan mendukung tim Mesir. Di stadion, suporter Argentina mengangkat bendera Israel, sementara pendukung Mesir membalas dengan bendera Palestina.

Jalinan Politik yang Lebih Luas

Kehadiran bendera Israel di antara pendukung Argentina dianggap penting secara simbolis, mengingat opini publik Argentina yang semakin kritis terhadap Israel, meskipun pemerintahnya tetap pro-Israel. Presiden Argentina Javier Milei memiliki hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump, yang mengklaim berjasa membawa Piala Dunia ke Amerika Utara. Keduanya sama-sama sangat mendukung Israel. Milei bahkan menyebut dirinya presiden paling Zionis di dunia, sementara Trump mengklaim sebagai sahabat terbaik Israel.

Trump juga memiliki hubungan dekat dengan Presiden FIFA Gianni Infantino. Pada 2025, Infantino melobi agar Trump mendapat Hadiah Nobel Perdamaian dan kemudian menciptakan FIFA Peace Prize yang langsung diberikan kepada Trump. Awal pekan ini, Trump dan Infantino bekerja sama membatalkan kartu merah pemain AS Folarin Balogun. Trump secara terbuka mengaku menelepon Infantino untuk meminta pembatalan skorsing.

Peristiwa itu tidak membuktikan campur tangan dalam laga Mesir vs Argentina, tetapi memperkuat persepsi bahwa akses politik dapat memengaruhi keputusan FIFA. Infantino juga pernah dituduh membantu memoles citra Israel terkait tindakannya terhadap Palestina, sementara FIFA menolak menjatuhkan sanksi kepada Israel meski cepat menskors Rusia.

Pertandingan yang Dilihat Melalui Lensa Palestina

Tanpa drama politik dan bayang-bayang Palestina, kontroversi pertandingan ini mungkin hanya akan menjadi perdebatan biasa tentang wasit dan VAR. Namun, laga ini terjadi di tengah kasus dugaan genosida oleh Israel di Mahkamah Internasional dan kecaman global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dukungan internasional terhadap perjuangan Palestina juga menguat, termasuk di olahraga.

Bagi jutaan penggemar sepak bola, terutama di dunia Arab dan Muslim, Gaza menjadi contoh tatanan global yang timpang, di mana kekuasaan menentukan hasil dan aturan. Israel telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar Gaza, dengan dukungan negara adidaya yang melindunginya dari pertanggungjawaban.

Melalui lensa itulah pertandingan Mesir-Argentina ditafsirkan. Gol Mesir yang dianulir dan tidak adanya pelanggaran untuk beberapa insiden pemain Argentina dianggap sebagai pengulangan pola yang sudah dikenal. Penolakan wasit menggunakan VAR setelah dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah memperkuat hal itu. Pihak yang lebih kuat dianggap diuntungkan, sementara institusi netral tampak menerapkan aturan secara tidak setara.

Ini tidak berarti FIFA berkonspirasi untuk memenangkan Argentina. Namun, kekuasaan dan bias tidak selalu membutuhkan rencana yang disengaja. Reaksi luas terhadap pertandingan ini tidak terlepas dari krisis kepercayaan terhadap institusi global yang mengklaim netralitas tetapi beroperasi dalam lingkungan yang timpang. Bagi jutaan penggemar yang mendukung Palestina, luka dari pertandingan ini mungkin tidak cepat hilang. Namun, yang juga tak terlupakan adalah gambar Hossam Hassan mengibarkan bendera Palestina di panggung olahraga terbesar dunia.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags