Penulis novel Tere Liye melontarkan kritik pedas terhadap berbagai alasan yang kerap digunakan tersangka korupsi saat harta kekayaan fantastis ditemukan. Dalam tulisannya, ia menyoroti temuan emas 74 kilogram, dolar AS, dan aset lain yang totalnya hampir setengah triliun rupiah.
Ia menyebut sejumlah argumen yang lazim dipakai, mulai dari klaim rumah disewakan kepada orang lain yang sudah meninggal, hingga alasan bahwa harta tersebut merupakan hasil bisnis sah selama puluhan tahun. "Kalau ente betulan punya bisnis real dengan penghasilan setengah triliun, bodoh masih nyambi jadi jaksa, mending fokus saja bisnis," tulisnya.
Argumen lain yang disindir adalah tuduhan fitnah akibat pemberantasan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes). Tere Liye mengakui ada benarnya teori konspirasi bahwa kasus itu bisa menjerat sejumlah jenderal. Namun, ia juga menyebut alasan seperti memelihara tuyul atau pesugihan sebagai dalih yang sulit dibuktikan.
Ia juga menyoroti strategi hukum seperti mengaku tidak tahu menahu, lupa, atau mengklaim harta sebagai hibah tanpa akta dan warisan nenek moyang. "Kekuatan argumen ini: sy tidak tahu. Titik. Silahkan hakim memutuskan," tulisnya. Ia menambahkan bahwa tuntutan 20 tahun penjara bisa berkurang drastis melalui remisi, sehingga tersangka hanya menjalani hukuman singkat dan tetap bisa menikmati harta lain yang tidak terungkap.
"Yang pasti harta sebanyak ini ada yang punya. Manusia. Itu betul sekali. Masak yang punya babi ngepet," pungkasnya.
Artikel Terkait
Anwar Abbas: Prabowo Hadapi Tantangan Berat Berantas Korupsi Jika Mental Pejabat Masih Koruptif
Polda Metro Jaya Sita Rp 60 Miliar dan 74 Kg Emas dalam Penggeledahan Kasus Korupsi
Pengamat: Publik Butuh Kepastian Hukum, Bukan Polemik Antarlembaga
Jampidsus Febrie Adriansyah Mundur di Tengah Dugaan Korupsi