Delegasi Tingkat Tinggi RI Hadiri Pemakaman Ayatollah Khamenei, Perkuat Kerja Sama dengan Iran

- Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:00 WIB
Delegasi Tingkat Tinggi RI Hadiri Pemakaman Ayatollah Khamenei, Perkuat Kerja Sama dengan Iran

Delegasi tingkat tinggi Republik Indonesia yang dipimpin Menteri Luar Negeri Sugiono dan Ketua MPR Ahmad Muzani menghadiri rangkaian penghormatan terakhir, prosesi pemakaman, dan ziarah ke makam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei di Kompleks Makam Imam Ridha, Mashhad, Iran, Jumat, 10 Juli 2026. Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama strategis kedua negara di berbagai bidang prioritas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Yevon Muwongkang, menyatakan bahwa kunjungan tersebut merupakan bentuk penghormatan resmi Pemerintah Indonesia kepada mendiang Ayatollah Ali Khamenei sekaligus memenuhi undangan Pemerintah Republik Islam Iran. Delegasi Indonesia menjadi rombongan diplomatik tingkat tinggi pertama yang secara resmi berziarah ke makam Ayatollah Khamenei setelah prosesi pemakaman selesai.

Rombongan Indonesia tiba di Mashhad pada Jumat dini hari dengan dua penerbangan langsung dan disambut melalui upacara resmi oleh otoritas Iran. Selain Sugiono dan Muzani, delegasi juga diperkuat para pejabat Kementerian Luar Negeri serta pimpinan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Yayasan Amal Islam Indonesia. Kehadiran tokoh-tokoh organisasi Islam terbesar di Indonesia ini mencerminkan dimensi diplomasi negara sekaligus hubungan sosial-keagamaan antara kedua bangsa.

Sugiono kemudian melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Keduanya membahas peningkatan kerja sama pada sektor-sektor prioritas, perkembangan kawasan Timur Tengah, serta dinamika politik global. Sementara itu, Ahmad Muzani dijadwalkan mengadakan pembicaraan terpisah dengan Ketua Majelis Syura Islam Iran Mohammad Bagher Ghalibaf guna memperkuat diplomasi parlemen, memperluas hubungan antarlembaga legislatif, serta meningkatkan hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Menurut Kementerian Luar Negeri Indonesia, kunjungan tersebut sekaligus menegaskan konsistensi Indonesia menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif, serta memperlihatkan eratnya hubungan persahabatan Jakarta dan Teheran.

Diplomasi yang Berakar dari Sejarah Panjang Peradaban

Hubungan Indonesia dan Iran sesungguhnya jauh melampaui hubungan diplomatik modern. Keduanya telah berakar sejak berabad-abad silam melalui jalur perdagangan Samudra Hindia yang menghubungkan Persia dengan kepulauan Nusantara. Sejak sekitar abad ke-7 hingga ke-15 Masehi, para saudagar Persia secara rutin berlayar menuju pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku. Mereka membawa rempah-rempah, kain, keramik, logam mulia, ilmu pengetahuan, sastra, serta tradisi intelektual Islam.

Sejumlah sejarawan mencatat bahwa para ulama dan pedagang Persia turut berkontribusi dalam penyebaran Islam di Nusantara melalui pendekatan perdagangan, pendidikan, tasawuf, dan kebudayaan yang berlangsung secara damai. Pengaruh Persia masih dapat ditemukan dalam berbagai unsur budaya Indonesia, mulai dari tradisi peringatan 10 Muharam di sejumlah daerah, seni kaligrafi, manuskrip keislaman klasik, sastra Melayu, hingga masuknya sejumlah kosakata Persia ke dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Tradisi Tabuk di Pariaman, Sumatera Barat, serta Tabot di Bengkulu, misalnya, merupakan warisan budaya yang secara historis memiliki keterkaitan dengan tradisi Asyura yang berkembang di dunia Persia sebelum kemudian mengalami akulturasi dengan budaya lokal Nusantara.

Hubungan intelektual kedua bangsa juga berkembang melalui pertukaran karya-karya ilmiah tokoh-tokoh besar Persia seperti Imam Al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, Saadi Shirazi, Hafiz Shirazi, Omar Khayyam, dan Mulla Sadra yang hingga kini masih dipelajari di berbagai perguruan tinggi Islam Indonesia. Hubungan diplomatik resmi Indonesia dan Iran dimulai pada tahun 1950, tidak lama setelah Indonesia memperoleh pengakuan internasional sebagai negara merdeka. Sejak saat itu, hubungan kedua negara berkembang dalam bidang politik, pendidikan, ekonomi, energi, perdagangan, kesehatan, kebudayaan, hingga kerja sama antaruniversitas. Indonesia dan Iran juga sama-sama menjadi anggota berbagai organisasi internasional, termasuk Gerakan Non-Blok (GNB), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan kelompok negara berkembang yang memperjuangkan tatanan dunia yang lebih berkeadilan.

Pertemuan Para Pemimpin Perkuat Hubungan Strategis

Hubungan kedua negara semakin erat melalui berbagai kunjungan kenegaraan para kepala negara. Presiden Soekarno pernah membangun hubungan persahabatan dengan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada era awal kemerdekaan Indonesia. Setelah Revolusi Islam Iran 1979, hubungan bilateral tetap terjaga melalui dialog intensif antara kedua pemerintahan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan ke Teheran dan beberapa kali bertemu Presiden Mahmoud Ahmadinejad, termasuk dalam forum internasional dan Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok. Presiden Joko Widodo juga beberapa kali bertemu Presiden Hassan Rouhani di sela-sela forum internasional untuk membahas peningkatan perdagangan, investasi, keamanan energi, serta kerja sama pembangunan.

Di sisi lain, para pejabat tinggi Iran secara berkala melakukan kunjungan ke Jakarta guna memperkuat hubungan ekonomi, pendidikan tinggi, teknologi, farmasi, industri halal, dan kerja sama kebudayaan. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan akademik kedua negara juga berkembang melalui peningkatan pertukaran mahasiswa, dosen, penelitian bersama, serta kerja sama antara perguruan tinggi Indonesia dengan berbagai universitas di Iran. Potensi kerja sama teknologi kesehatan, bioteknologi, antariksa, energi terbarukan, kecerdasan buatan, hingga industri pertahanan juga semakin banyak dibahas dalam forum bilateral kedua negara.

Penghormatan yang Memiliki Makna Diplomatik

Kehadiran delegasi Indonesia dalam prosesi penghormatan terakhir di Mashhad dipandang bukan sekadar menghadiri sebuah upacara kenegaraan, melainkan juga menjadi simbol penghormatan terhadap hubungan historis yang telah terbangun selama berabad-abad antara bangsa Persia dan Nusantara. Partisipasi tokoh-tokoh dari pemerintah maupun organisasi Islam terbesar Indonesia memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan Iran tidak hanya bertumpu pada diplomasi antarnegara, tetapi juga bertumbuh melalui ikatan kebudayaan, pendidikan, keagamaan, dan hubungan antarmasyarakat yang telah berlangsung lintas generasi.

Di tengah meningkatnya dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah, kedua negara tetap memiliki ruang yang luas untuk memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan berdasarkan prinsip saling menghormati kedaulatan, dialog, serta perdamaian internasional, sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags