Konsep Sekufu di Era Dating Apps: Antara Cinta, Gengsi, dan Kelayakan

- Jumat, 10 Juli 2026 | 06:06 WIB
Konsep Sekufu di Era Dating Apps: Antara Cinta, Gengsi, dan Kelayakan

Mencari pasangan hidup di era digital tidak lagi dimulai dari pertemuan tatap muka. Banyak orang berkenalan lewat aplikasi kencan, media sosial, atau bahkan kolom komentar. Dari percakapan ringan, hubungan berkembang menjadi serius hingga membicarakan masa depan. Namun, ketika hubungan hendak dilanjutkan ke jenjang pernikahan, sering muncul pertanyaan klasik: apakah pasangan kita 'selevel'?

Pertanyaan itu sering berujung pada penolakan halus atau keraguan dari keluarga. Konsep kafa'ah atau sekufu dalam hukum keluarga Islam kembali mencuat. Konsep ini mengacu pada kesepadanan antara calon suami dan istri, namun dalam praktiknya kerap direduksi menjadi kesamaan status sosial, ekonomi, atau keturunan. Padahal, dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13, ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan, bukan garis keturunan atau harta.

Kafa'ah dalam Fikih Klasik

Dalam literatur fikih, kafa'ah dibahas dengan beragam penekanan. Mazhab Hanafi misalnya memasukkan unsur agama, keturunan, profesi, dan kemerdekaan. Sementara mazhab lain lebih menekankan agama dan akhlak. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kafa'ah adalah hasil ijtihad yang dipengaruhi kondisi sosial zamannya. Tujuannya mulia: menjaga kehormatan keluarga dan stabilitas rumah tangga. Namun, jika dipahami secara kaku, ia bisa menjadi alat mempertahankan gengsi sosial.

Hadis Nabi riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa perempuan dinikahi karena empat hal: harta, keturunan, kecantikan, dan agama. Nabi menganjurkan memilih yang baik agamanya. Pesan ini menegaskan bahwa faktor spiritual dan moral lebih utama daripada faktor lahiriah.

Benturan Dunia Digital dan Standar Lama

Aplikasi kencan membuat batas sosial terasa lebih cair. Seseorang bisa jatuh cinta pada orang dari latar belakang berbeda. Namun, ketika hubungan serius, keluarga sering menerapkan standar lama. Banyak hubungan kandas bukan karena tidak saling mencintai, melainkan karena dianggap 'tidak pantas'. Penghasilan belum stabil, latar keluarga berbeda, atau pendidikan tidak sepadan menjadi alasan penolakan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kafa'ah belum hilang, hanya tidak disebut namanya. Ia hadir dalam bentuk restu yang ditahan atau perbandingan diam-diam. Padahal, jika dipahami dangkal, sekufu bisa menjadi alat stratifikasi sosial dalam urusan jodoh.

Makna Sekufu yang Lebih Substantif

Agar relevan di era sekarang, kafa'ah perlu dimaknai ulang. Kesepadanan tidak lagi cukup diukur dari kelas sosial, tetapi dari hal-hal yang menentukan kualitas rumah tangga: visi hidup, cara pandang terhadap peran suami-istri, kesiapan menghadapi realitas ekonomi, dan komitmen bertumbuh bersama. Agama tetap fondasi, tetapi harus disertai akhlak, empati, dan tanggung jawab.

Al-Quran surat Ar-Rum ayat 21 menyebut tujuan pernikahan adalah meraih sakinah, mawaddah, wa rahmah ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat. Ukuran sekufu semestinya diarahkan pada hal-hal yang mendukung tercapainya tujuan itu, bukan sekadar kesetaraan status.

Chemistry Digital Belum Cukup

Kedekatan di aplikasi kencan sering terasa intens, tetapi belum menjamin kesiapan menikah. Profil menarik atau kebiasaan berbagi cerita tidak otomatis berarti seseorang siap menjadi pasangan hidup. Di sinilah kafa'ah masih punya tempat: sebagai ruang refleksi untuk bertanya apakah hubungan cukup kuat untuk melewati konflik, tekanan ekonomi, dan rutinitas rumah tangga.

Pertanyaan semacam itu lebih penting daripada sekadar memastikan pasangan berasal dari 'kelas' yang sama. Sebab rumah tangga dijalani oleh dua manusia dengan segala kekurangan dan kebiasaan masing-masing, bukan oleh dua biodata yang tampak serasi di atas kertas.

Relevansi Sekufu di Era Swipe Right

Kafa'ah masih relevan jika dimaknai sebagai kesepadanan dalam nilai, kedewasaan, dan visi hidup. Ia tidak relevan ketika dipakai untuk mengukur kelayakan pasangan semata-mata dari status sosial. Di era jodoh bisa datang dari layar ponsel, sekufu seharusnya bukan pagar yang menutup kemungkinan dua orang membangun rumah tangga hanya karena latar belakang berbeda.

Sebaliknya, ia bisa menjadi pengingat bahwa pernikahan membutuhkan lebih dari sekadar rasa nyaman dan chemistry. Pernikahan membutuhkan kesiapan hidup bersama secara nyata. Pertanyaan tentang sekufu seharusnya bukan 'apakah dia pantas untuk keluargaku?', melainkan 'apakah kami benar-benar siap berjalan bersama dalam kehidupan yang sesungguhnya?'

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags