Ketika Perdana Menteri India Narendra Modi tiba di Jakarta pada 6 Juli 2026, perhatian publik mungkin tertuju pada nilai investasi, jumlah nota kesepahaman, atau kepastian pengadaan rudal supersonik BrahMos. Namun, jika kunjungan itu hanya dipahami sebagai diplomasi seremonial atau balasan atas lawatan Presiden Prabowo Subianto ke India tahun lalu, kita justru berisiko melewatkan perubahan yang lebih mendasar.
Yang terjadi bukan sekadar peningkatan intensitas hubungan bilateral. Indonesia dan India tengah memasuki fase redefinisi hubungan, ditandai oleh semakin bertemunya kepentingan strategis dalam menghadapi dinamika Indo-Pasifik, transformasi ekonomi global, dan meningkatnya peran negara-negara Global South. Kunjungan Modi bukan penyebab perubahan, melainkan manifestasi dari transformasi yang telah berlangsung sejak awal pemerintahan Prabowo.
Selama bertahun-tahun, hubungan Indonesia–India sering dijelaskan secara sektoral: perdagangan, sejarah, pertahanan, atau maritim. Semua perspektif itu benar, tetapi hanya menggambarkan sebagian dari keseluruhan. Dalam dua tahun terakhir, perkembangan justru memperlihatkan pola yang lebih besar: hubungan kedua negara tidak lagi berkembang secara parsial, melainkan melalui konvergensi kepentingan strategis yang melibatkan hampir seluruh instrumen diplomasi.
Diplomasi Tingkat Pemimpin
Bukti pertama terlihat pada diplomasi tingkat pemimpin. Kunjungan Presiden Prabowo ke India sebagai tamu kehormatan Hari Republik India pada Januari 2025 menghasilkan perluasan agenda kerja sama yang mencakup pertahanan, keamanan maritim, kesehatan, transformasi digital, ketahanan pangan, budaya, hingga penguatan koordinasi di Global South. Kehadiran kontingen TNI dalam parade militer India menjadi simbol meningkatnya kepercayaan strategis.
Momentum itu tidak berhenti di level kepala negara. Pada Juni 2026, Menteri Luar Negeri Sugiono dan Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar memimpin 8th Joint Commission Meeting di New Delhi. Pertemuan itu menghasilkan kesepahaman untuk mempercepat kerja sama perdagangan, investasi, industri strategis, konektivitas digital, keamanan maritim, pengembangan Pelabuhan Sabang, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, serta integrasi sistem pembayaran digital QRIS–UPI. Forum itu sekaligus menjadi fondasi diplomatik bagi kunjungan Modi. Menariknya, Menlu Indonesia secara eksplisit menegaskan bahwa kemitraan harus menghasilkan kerja sama yang lebih konkret dan saling menguntungkan, bukan sekadar memperbanyak dialog.
Kerja Sama Pertahanan
Perkembangan paling banyak mendapat perhatian berasal dari sektor pertahanan. Sejak menjabat Menteri Pertahanan, Prabowo telah menjadikan India sebagai mitra penting dalam diversifikasi industri pertahanan Indonesia. Pada Maret 2026, Kementerian Pertahanan RI mengonfirmasi bahwa Indonesia telah memasuki tahap agreement untuk pengadaan sistem rudal BrahMos sebagai bagian dari modernisasi pertahanan maritim. Ini merupakan perkembangan paling konkret setelah negosiasi bertahun-tahun. Namun, pemerintah belum mengumumkan nilai kontrak, mekanisme pembiayaan, jadwal pengiriman, maupun bentuk alih teknologi.
Menjelang kunjungan Modi, berbagai laporan media India menyebutkan pembahasan tidak hanya menyangkut implementasi BrahMos, tetapi juga kemungkinan penambahan baterai berikutnya, kerja sama kapal selam, pengolahan mineral kritis terutama nikel, serta penguatan ekonomi digital. Apabila seluruh agenda itu terealisasi, hubungan Indonesia–India akan memasuki fase yang jauh lebih implementatif. Namun, sebagian informasi itu masih berasal dari laporan media dan belum memperoleh konfirmasi resmi dari pemerintah Indonesia. Kehati-hatian tetap diperlukan agar optimisme tidak mendahului realitas kebijakan.
Apabila seluruh perkembangan dipandang secara utuh, hampir seluruh instrumen diplomasi Indonesia bergerak bersamaan. Diplomasi kepresidenan membuka arah strategis, diplomasi luar negeri membangun kerangka kelembagaan, sementara diplomasi pertahanan mulai menerjemahkannya ke dalam kerja sama konkret. Pola seperti ini relatif jarang terlihat dalam hubungan Indonesia–India pada dekade sebelumnya.
Tantangan Implementasi
Meski demikian, keberhasilan hubungan bilateral tidak boleh diukur hanya dari meningkatnya frekuensi kunjungan tingkat tinggi. Di sinilah tantangan terbesar masih berada. Pertama, masih ada kesenjangan antara komitmen politik dan implementasi. Berbagai joint statement, MoU, dan dialog strategis telah menghasilkan agenda kerja sama yang semakin luas, tetapi jumlah proyek yang benar-benar selesai dan memberikan manfaat nyata masih terbatas.
Kasus BrahMos adalah contoh paling jelas. Di satu sisi, kesepakatan itu menunjukkan meningkatnya kepercayaan strategis. Di sisi lain, proses panjang menuju implementasi memperlihatkan bahwa kerja sama pertahanan bergantung pada birokrasi, pembiayaan, regulasi ekspor, serta kesiapan industri pertahanan kedua negara. Ukuran keberhasilan bukanlah tercapainya agreement, melainkan realisasi sistem tersebut beserta peluang alih teknologi dan pengembangan industri pertahanan nasional.
Kedua, hubungan ekonomi juga memerlukan redefinisi. Perdagangan bilateral terus meningkat, tetapi strukturnya masih didominasi komoditas primer. Padahal, kedua negara memiliki peluang besar untuk membangun kemitraan di sektor yang lebih strategis seperti pengolahan mineral kritis, kendaraan listrik, kecerdasan buatan, ekonomi digital, farmasi, semikonduktor, serta transisi energi. Hubungan ekonomi yang hanya bertumpu pada perdagangan komoditas tidak akan cukup menopang kemitraan strategis jangka panjang.
Ketiga, hubungan Indonesia–India masih terlalu bertumpu pada elite politik. Dinamika positif saat ini sebagian besar digerakkan oleh presiden, menteri luar negeri, dan menteri pertahanan. Padahal, kemitraan yang berkelanjutan memerlukan partisipasi universitas, lembaga riset, industri, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, media, dan generasi muda. Hubungan antarnegara akan jauh lebih kokoh apabila ditopang oleh hubungan antarmasyarakat.
Karena itu, momentum kunjungan Modi seharusnya dimanfaatkan bukan hanya untuk menambah daftar kesepakatan baru, tetapi juga untuk membangun mekanisme implementasi yang lebih kuat. Indonesia dan India memerlukan peta jalan bersama hingga 2035 yang memuat target terukur di bidang perdagangan, investasi, keamanan maritim, industri pertahanan, mineral kritis, ekonomi digital, pendidikan tinggi, riset bersama, serta pengembangan sumber daya manusia. Setiap komitmen juga perlu dilengkapi dengan mekanisme pemantauan dan evaluasi agar kemajuan hubungan bilateral dapat diukur secara objektif.
Pada akhirnya, keberhasilan kunjungan Modi tidak akan ditentukan oleh jumlah dokumen yang ditandatangani atau besarnya nilai investasi yang diumumkan. Ukurannya adalah apakah momentum itu mampu mempercepat lahirnya proyek-proyek strategis yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara sekaligus memperkuat stabilitas Indo-Pasifik. Selama dua dekade terakhir, Indonesia dan India berhasil membangun strategic partnership. Kini tantangan berikutnya jauh lebih besar: mengubah kemitraan tersebut menjadi implementation partnership kemitraan yang diukur bukan dari retorika diplomatik, melainkan dari kemampuan kedua negara menerjemahkan konvergensi kepentingan menjadi kerja sama yang nyata, berkelanjutan, dan mampu membentuk arsitektur kawasan yang lebih stabil dan inklusif. Itulah makna sesungguhnya dari upaya mendefinisikan ulang hubungan Indonesia–India.
Artikel Terkait
Prabowo dan Modi Resmikan Proyek Konservasi Candi Prambanan
Delegasi India Terkesan dengan Sambutan Hangat Indonesia untuk Modi
Kunjungan Kenegaraan PM India Narendra Modi ke Indonesia: Penghargaan Tertinggi Hingga 15 Kerja Sama Disepakati
Prabowo dan PM India Sepakat Perkuat Hubungan Bilateral Lewat Jamuan Kenegaraan