Bagi mereka yang telah memasuki dunia kerja, akses ke perpustakaan umum kerap menjadi mimpi di siang bolong. Jam operasional perpustakaan yang birokratis biasanya tutup pukul lima sore beradu dengan jam pulang kantor. Sementara itu, toko buku menawarkan alternatif, namun harga buku yang kian melambung membuatnya bukan pilihan utama di tengah kebutuhan pokok yang mendesak. Di sinilah urgensi perpustakaan malam di Kota Medan muncul: sebagai ruang me time bagi karyawan yang rindu membaca, sekaligus menjawab kebiasaan generasi Z yang aktif pada malam hari.
Pendidikan dasar hingga menengah di Indonesia telah lama mengasosiasikan perpustakaan dengan upaya meningkatkan minat baca. Pemerintah pun gencar mendorong gerakan gemar membaca, dengan menyediakan akses mudah melalui perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, hingga bus perpustakaan keliling. Di tingkat perguruan tinggi, akses semakin luas: mahasiswa bisa meminjam kartu teman untuk masuk ke perpustakaan universitas lain, atau bergabung dengan kelompok belajar seperti Genbi di Perpustakaan Bank Indonesia. Namun, semua kemudahan itu sirna begitu seseorang lulus dan memasuki jenjang profesi.
Budaya kerja nine to five membuat waktu senggang karyawan bertabrakan dengan jam operasional perpustakaan umum. Padahal, jam pulang anak SMP dan SMA kini juga semakin sore karena les tambahan. Ironisnya, di malam hari justru banyak generasi Z yang kebingungan mengisi waktu saking senggangnya, mereka terbiasa bermain TikTok hingga dini hari. Perpustakaan malam bisa menjadi solusi: menyediakan tempat yang tenang untuk membaca, mengerjakan tugas, atau sekadar melepas penat.
Pemerintah telah mencoba menghadirkan perpustakaan digital sebagai substitusi. Namun, gaung promosinya masih lemah. Di era serba viral, tanpa strategi promosi yang tepat, perpustakaan digital tidak akan menjadi tren di kalangan anak muda. Apalagi, belakangan muncul fenomena darurat literasi: banyak generasi Z yang tidak pandai berhitung sederhana, tidak paham sejarah, tidak hafal kepanjangan MPR, bahkan tidak bisa membaca jam analog. Jika dibiarkan, hal ini bisa mengancam kemampuan berpikir kritis dan keberlanjutan pembangunan nasional.
Selain itu, perpustakaan digital mengabaikan esensi kebersamaan. Banyak anak muda senang beraktivitas dalam komunitas, bertemu orang dengan hobi serupa. Perpustakaan fisik juga menjadi tempat favorit untuk mengerjakan tugas karena suasananya yang hening membantu fokus. Oleh karena itu, jika perpustakaan malam bisa diwujudkan, perlu ada adaptasi untuk mengayomi generasi Z. Misalnya, mengurangi kekakuan pustakawan yang bermuka masam, menyediakan lounge membaca yang lebih cozy, atau memperbanyak event yang bisa diikuti. Generasi Z sangat peduli pada isu kesehatan mental, sehingga pelayanan perlu diferensiasi.
Penulis berharap para birokrat mau mengakomodasi gairah baca kelas pekerja sekaligus menarik generasi Z untuk gemar membaca lewat perpustakaan malam. Sebagai amanat UUD 1945 yang mencerdaskan kehidupan bangsa, kehadiran perpustakaan malam disadari atau tidak akan berkontribusi pada cita-cita tersebut. Semoga pemerintah bisa satu frekuensi dengan generasi Z yang mereka pimpin hari ini, agar gerbong generasi tersebut bisa diandalkan menuju Indonesia Emas 2045, bukan menjadi generasi cemas.
Artikel Terkait
Hardiyanto Kenneth Ajak Gen Z Warisi Semangat Bung Karno di Tengah Era Digital
Gen Z dan Kembalinya Primbon: Antara Sains, Media Sosial, dan Pencarian Kepastian