Kopi Kenangan membuktikan bahwa bisnis dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan. Sepanjang 2025, perusahaan yang berdiri sejak 2017 ini mencatat EBITDA grup sebesar US$37 juta atau sekitar Rp467 miliar, sekaligus menjadi tahun pertama profitabilitas penuh di tingkat grup. Di balik angka itu, ada cerita tentang 50 ton limbah yang diselamatkan, pemberdayaan petani Kintamani, dan inklusivitas bagi barista tuli.
Duduk di Gerai Kopi Kenangan Alam Sutera, Tangerang Selatan, Co-Founder sekaligus Group CEO Kenangan Brands, Edward Tirtanata, menunjuk sebuah bangku panjang. Bangku itu, bersama meja dan beberapa lampu di gerai tersebut, terbuat dari 546 kilogram sampah plastik daur ulang setara 45.500 gelas plastik menu Kopi Kenangan Mantan. "Kami meyakini disiplin finansial dan tanggung jawab keberlanjutan bukanlah dua jalan berseberangan, melainkan satu jalan yang sama," ujarnya.
Keyakinan itu diwujudkan dalam Laporan Dampak ESG 2025, dokumen perdana yang mengukur kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. Di ranah lingkungan, Kopi Kenangan memetakan jejak karbon operasional secara menyeluruh. Total emisi Cakupan 1 dan 2 tercatat 38,8 juta kilogram CO2e. Angka itu menjadi titik awal dekarbonisasi. Perusahaan berhasil mereduksi emisi hingga 81.672 kg CO2e melalui daur ulang limbah elektronik, kemasan plastik, kantong spunbond, minyak jelantah, dan pemanfaatan kembali ampas kopi.
Seluruh bahan baku utama dipasok dari dalam negeri. Keputusan itu tidak hanya memperkuat ekonomi lokal dengan kontribusi upah Rp467 miliar bagi perekonomian Indonesia tetapi juga memangkas jejak karbon logistik jarak jauh. "Kami memprioritaskan pengadaan material secara lokal, kini mencapai 100% untuk bahan baku utama," tulis laporan tersebut.
Dari Ampas Kopi ke Kompos, dari Gelas Plastik ke Energi
Kampanye "KosonginIsinya" menjadi salah satu program unggulan. Dengan kerja sama daur ulang bersama vendor terpercaya, perusahaan mengalihfungsikan 2.511 kg limbah gelas plastik. Di 10 gerai yang tersebar di Jakarta dan Tangerang, kotak sampah gelas plastik disediakan khusus untuk menampung bekas kemasan dengan kondisi kosong tanpa sisa cairan. Sepanjang 2023 hingga 2025, program ini mengumpulkan 2,3 ton gelas plastik.
Secara total, lebih dari 50 ton limbah operasional terdiri dari gelas plastik, kertas, minyak jelantah, ampas kopi, dan spunbond dialihkan dari tempat pembuangan akhir melalui inisiatif ekonomi sirkuler. Ampas kopi diolah menjadi kompos dan pakan ternak, sementara minyak jelantah dan kantong spunbond diubah menjadi energi alternatif atau biofuel.
Di ranah sosial internal, Kopi Kenangan mencatatkan tingkat perputaran karyawan yang rendah: 16,2% untuk kantor pusat dan 47,4% untuk operasional, jauh di bawah rata-rata industri F&B yang mencapai 30% dan 70%. Perusahaan juga mempertahankan rasio gender 1:1 di kantor pusat dan kesetaraan upah di seluruh lapisan organisasi. Keterwakilan perempuan bahkan mencapai posisi strategis dari C-Level hingga SVP/VP.
Memberdayakan dari Hulu ke Hilir
Melalui platform Kenangan BAIK (Bersama Indonesia Kuat), perusahaan menyalurkan energi pada tiga sub-pilar: Kenangan Berdaya, Kenangan PinTer, dan Kenangan Sirkular. Di Kintamani, Bali, perusahaan berkolaborasi dengan Universitas Udayana dan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Kintamani untuk mendukung ekosistem pertanian hulu. Edukasi pertanian berkelanjutan diberikan kepada 50 petani, program inkubasi bisnis bagi 14 anak petani, dan hibah infrastruktur berupa mesin sortasi serta mesin pemotong rumput.
Di Nusa Tenggara Timur, Kopi Kenangan membangun tiga sumur air di wilayah Nagakeo dan Golomori, mengalirkan manfaat langsung bagi lebih dari 6.000 jiwa. Di Sukabumi, perusahaan menghibahkan 665 peralatan yang dibutuhkan petani gula aren dan menghadirkan empat fasilitas sanitasi umum (MCK), membuka akses sanitasi aman bagi lebih dari 5.000 jiwa.
Program Kenangan Belajar Kopi (KBK), pelatihan barista dan bisnis kopi gratis, telah meluluskan 153 peserta di tiga kota sepanjang 2023 hingga 2025.
Melangkah ke Inklusi yang Lebih Luas
Di tahun 2026, Kopi Kenangan mengambil langkah baru melalui program Barista Hebat. Bekerja sama dengan Parakerja, program ini merekrut penyandang disabilitas tuli dan memberikan pelatihan barista, pengembangan keterampilan kerja, serta pendampingan agar mereka siap bekerja secara profesional. Gemini Aryanto, Group Chief People & Culture Kopi Kenangan, menegaskan bahwa program ini membuktikan keterbatasan tidak menghalangi seseorang untuk bertumbuh dan berkarya secara profesional.
"Kami berharap dapat mendorong terciptanya ekosistem ketenagakerjaan yang semakin inklusif," ujarnya.
CEO Parakerja, Resky Ahyana, menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam menciptakan lingkungan kerja inklusif bukan terletak pada kemampuan penyandang disabilitas, melainkan pada kesiapan ekosistem kerja. "Yang perlu dipersiapkan bukan hanya kandidatnya, tetapi juga lingkungan kerjanya. Ketika komunikasi dan ekosistemnya siap, teman-teman disabilitas dapat bekerja dan memberikan performa yang sama baiknya," katanya dalam acara peluncuran laporan ESG di Gerai Cikajang, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Kopi Kenangan saat ini mengoperasikan gerai di Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Australia, dan India. Di tengah ekspansi itu, perusahaan menyadari bahwa skala yang lebih besar menuntut tanggung jawab yang lebih besar. "Pada laporan berikutnya, kami berkomitmen melangkah lebih jauh dengan menetapkan roadmap ESG yang komprehensif beserta target yang dapat dipertanggungjawabkan," tulis Edward dalam sambutannya.