Prabowo: Akar Konflik Dunia Bukan Ideologi atau Sumber Daya, tapi Elite yang Gagal Bekerja Sama

- Jumat, 26 Juni 2026 | 19:48 WIB
Prabowo: Akar Konflik Dunia Bukan Ideologi atau Sumber Daya, tapi Elite yang Gagal Bekerja Sama

Presiden Prabowo Subianto menyoroti akar dari berbagai konflik dan peperangan yang masih terjadi di dunia. Menurutnya, penyebab utamanya bukanlah perbedaan ideologi atau sumber daya, melainkan ketidakmampuan para elite di suatu negara untuk bekerja sama.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Sarasehan Kebangsaan bersama sekitar 2.600 rektor, dekan, dan dosen dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Jakarta Convention Center, Jumat (26/6). Di hadapan para akademisi, ia menegaskan bahwa sejarah selama ribuan tahun telah membuktikan satu hal: bangsa yang elitenya mampu bersatu akan bangkit, sementara yang elitenya terus berselisih tidak akan pernah mencapai potensi maksimalnya.

"Dari apa yang saya belajar dari sejarah ribuan tahun, bangsa-bangsa yang elitenya bisa kerja sama, bangsa itu yang bangkit. Bangsa yang elitenya selalu tidak bisa kerja sama, bangsa itu tidak bisa mencapai potensinya. Ini sejarah mengajarkan," ujar Prabowo.

Untuk memperkuat argumennya, Presiden menunjuk pada sejumlah konflik yang masih berkecamuk di berbagai belahan dunia. Ia menyebut perang di Ukraina sebagai contoh paling gamblang. Menurutnya, pihak-pihak yang bertikai di sana memiliki latar belakang ras, suku, dan agama yang nyaris sama, tetapi pertempuran terus berlangsung dengan korban yang sangat besar.

"Sampai hari ini, marilah kita lihat, lihat di berita apa yang terjadi di Ukraina, di Eropa. Kalau kita lihat rasnya sama, sukunya sama, agamanya juga banyak yang sama, perangnya itu sampai puluhan ribu korban mati tiap bulan. Dan perang di Ukraina sudah lebih lama dari Perang Dunia Kedua," katanya.

Prabowo juga menyinggung konflik di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan. Ia menyebut Gaza, Palestina, Lebanon, Iran, negara-negara Teluk, Yaman, Afghanistan, Baluchistan, Myanmar, hingga ketegangan antara Thailand dan Kamboja. Menurutnya, kehancuran di Gaza saat ini sudah setara dengan dampak bom atom di Hiroshima atau Nagasaki.

"Kita lihat apa yang terjadi di Gaza, di Palestina, di Lebanon. 90% dari Gaza rata. Mungkin sama akibatnya dengan Hiroshima atau Nagasaki. Lebanon sekarang seperti itu, Iran, seluruh negara teluk, Yaman. Kita tinggal lihat tiap hari. Perang di Afghanistan, perang di Baluchistan, perang di Myanmar semakin... Perang antara orang Thai dan Kamboja. Saudara-saudara, di tengah ini semua, kuncinya adalah antara lain elite yang tidak bisa kerja sama," tuturnya.

Di tengah gambaran kelam konflik global itu, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk merenungkan kembali cara bernegara. Ia menekankan bahwa persatuan dan kerja sama harus menjadi fondasi utama, bukan sekadar slogan.

"Jadi saudara-saudara, bernegara saya kira kita perlu untuk renungkan masalah bernegara," tandas dia.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags