MURIANETWORK.COM – Izin operasional taksi Green SM lagi-lagi jadi perbincangan. Kali ini, sorotannya makin tajam setelah ada dugaan keterkaitan dengan kecelakaan antara Kereta Rel Listrik (KRL) dan Kereta Api (KA) jarak jauh Argo Bromo Anggrek rute Gambir–Surabaya.
Peristiwa nahas itu terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam, 27 April 2026. Suasana malam itu sontak berubah mencekam.
Banyak pihak langsung bereaksi. Mulai dari warga biasa, pemerintah, sampai anggota DPR RI. Mereka mendesak agar izin perusahaan taksi itu dievaluasi total. Bahkan ada yang minta dibekukan saja.
Salah satu yang paling vokal adalah Rieke Diah Pitaloka, anggota Komisi XIII DPR RI. Menurut dia, kejadian ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Ini soal nyawa manusia dan kerugian negara yang tidak sedikit.
“Itu nyawa loh, 15 orang, 90 orang di rumah sakit, luka. Berapa puluh miliar, mungkin ratusan miliar kerugian negara,” kata Rieke melalui akun Instagram pribadinya, @riekediahp, pada Rabu, 29 April 2026.
Ia menegaskan, permintaan maaf saja tidak cukup. Harus ada tindakan nyata dari pemerintah. Keselamatan publik, kata dia, harus jadi prioritas utama dalam setiap kebijakan.
“Jangan cuma minta maaf, ini soal nyawa. Jangan karena bosnya orang luar lalu tidak punya kepentingan terhadap Indonesia,” tegasnya.
Pemerintah pun angkat bicara. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengaku sudah menyampaikan soal evaluasi ini ke Kementerian Perhubungan. Katanya, langkah-langkah sudah mulai diambil.
“Termasuk dalam hal ini Menteri Perhubungan melalui Dirjen Perhubungan daratnya telah menyampaikan akan mengevaluasi pihak perusahaan taksi Green,” ujar Teddy, dikutip dari Instagram @sekretariat.presiden pada 28 April 2026.
Evaluasi itu rencananya bakal mencakup banyak hal: perizinan, operasional di lapangan, sampai kepatuhan terhadap aturan keselamatan transportasi. Semua akan diperiksa.
200 Unit Green SM Beroperasi di Makassar
Di sisi lain, di Sulawesi Selatan, taksi Green SM justru sudah jalan cukup lama. Tercatat ada 200 unit taksi listrik yang beroperasi di Makassar, Maros, Sungguminasa (Gowa), dan Takalar atau yang biasa disebut kawasan Mamminasata.
Armada ini mulai beroperasi sejak 31 Agustus 2025. Lumayan lama juga sudah berjalan.
Layanan ini digagas oleh PT XAHNSM Green and Smart Mobility Indonesia. Mereka bekerja sama dengan PT Avon, perusahaan taksi listrik asal Vietnam. Jadi ada nuansa internasional di sini.
Managing Director PT XAHNSM, Derby, pernah bilang bahwa kehadiran taksi listrik ini bukan cuma soal bisnis. Ada misi besar di baliknya: mendukung target pemerintah mengurangi emisi karbon, atau net zero carbon, sambil juga mendorong ekonomi lokal.
“Melalui taksi listrik, kami berharap tidak hanya mengurangi jejak karbon, tapi juga memberi dampak ekonomi lokal. Misalnya membuka peluang usaha pencucian mobil hingga mendukung UMKM warga sekitar,” kata Derby pada Agustus 2025 lalu.
Menariknya, sistem kerja mitra pengemudi di sini beda dengan taksi biasa. Pengemudi tidak perlu setor uang setiap hari. Mereka pakai skema bagi hasil. Pembayarannya pun sudah terintegrasi dengan berbagai e-wallet. Praktis, katanya.
Untuk memesan, penumpang bisa lewat aplikasi, call center, atau bahkan langsung menghentikan kendaraan di pinggir jalan. Cukup fleksibel.
Derby juga memastikan semua armada sudah mengantongi izin resmi dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Jadi, setidaknya secara administratif, mereka sudah memenuhi syarat.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu