Ada kalimat-kalimat yang terdengar sederhana, tetapi ketika diucapkan oleh seseorang yang telah mendedikasikan hidupnya untuk membantu puluhan juta manusia, bobotnya terasa berbeda. The secret to living is caring rahasia hidup adalah kepedulian. Kalimat itu terus terngiang di kepala sejak malam yang sangat dingin di Washington DC, Februari lalu.
Di luar, suhu jatuh ke titik nol derajat Celsius. Angin musim dingin menusuk hingga ke tulang. Setelah menerima pesan dari Agung, sekretaris pribadi Presiden, langkah kaki dipercepat sambil tangan dibenamkan ke dalam saku mantel menuju sebuah kafe kecil yang berjarak 15 menit dari hotel. Namun, di dalam kafe itu, kehangatan terasa bukan karena pemanas ruangan, melainkan karena percakapan yang terjadi di antara dua orang yang sama-sama percaya bahwa hidup manusia menjadi berarti ketika digunakan untuk melayani sesama.
Malam itu, bersama beberapa orang lain, saya menjadi saksi pertemuan pertama Presiden Prabowo Subianto dengan Tony Robbins. Tony terbang khusus dari Florida ke Washington DC hanya untuk satu tujuan: ia ingin mendengar langsung dari Presiden tentang program Makan Bergizi Gratis Indonesia. Sebelumnya, ia telah mendengar cerita tentang program tersebut. Semakin banyak yang ia dengar, semakin besar rasa ingin tahunya.
Bagi Tony, isu kelaparan bukan sekadar kebijakan. Memberantas kelaparan adalah bagian utama dari hidupnya. Bertahun-tahun lalu, ketika masih kecil, keluarganya hidup dalam kesulitan. Pada suatu Hari Thanksgiving, mereka bahkan tidak memiliki cukup makanan untuk makan malam. Lalu, di tengah malam, seorang asing mengetuk pintu rumah mereka. Orang itu datang membawa makanan. Bagi Tony kecil, peristiwa itu mengubah hidupnya. Ia menyadari bahwa kebaikan seseorang dapat menyelamatkan martabat dan harapan keluarga lain. Sejak saat itu, ia berjanji bahwa suatu hari nanti, jika diberi kemampuan, ia akan melakukan hal yang sama.
Janji itu kemudian berkembang menjadi gerakan luar biasa. Dari jutaan makanan, menjadi miliaran makanan, hingga kini berkembang menjadi 500 Billion Meals Challenge, salah satu gerakan filantropi pangan terbesar yang pernah ada.
Malam itu, percakapan mengalir hangat. Tony banyak bertanya. Presiden Prabowo menjawab. Sampailah pada satu pertanyaan sederhana penuh makna. “Why are you doing this, at this scale, at this speed?” Presiden Prabowo terdiam beberapa saat, kemudian menjawab pelan. “Saya tidak mau ada anak kecil di Indonesia yang lapar.”
Beliau berhenti sejenak. “Saya tidak mau mereka menunggu.” Matanya mulai berbinar. “Saya akan merasa zalim kepada mereka jika saya tidak melaksanakan program ini secepat-cepatnya, sebaik-baiknya.”
Beliau melanjutkan, “Lebih dari seratus negara sudah menjalankan program makan sekolah. Amerika menjalankannya. Negara-negara maju menjalankannya. India pun bisa jalankan. Indonesia juga harus bisa.” Di tengah kalimat itu, saya melihat sesuatu yang jarang saya lihat. Tony Robbins menangis. Kami pun yang menyaksikan turut menangis.
Air mata Tony jatuh bukan karena ia merasakan sesuatu yang sangat ia pahami. Ia melihat seorang pemimpin yang berbicara tentang anak-anak lapar bukan sebagai data, melainkan sebagai amanah. Malam itu, Tony berjanji akan datang ke Indonesia dengan biaya sendiri, tanpa satu rupiah pun dari Pemerintah Republik Indonesia. Ia ingin melihat langsung, merasakan langsung, dan menyaksikan sendiri bagaimana program makan bergizi gratis dengan skala tercepat di dunia itu dijalankan.
Ia menunaikan janjinya. Awal Juni lalu, Tony Robbins benar-benar datang. Ia mengunjungi dapur SPPG, melihat bagaimana makanan disiapkan, dan berbicara dengan para penggerak di lapangan. Ia makan bersama Presiden Prabowo dan para siswa di SMPN 111 Jakarta. Esoknya, ia berdiri di hadapan sekitar 12.000 penggerak Makan Bergizi Gratis dari seluruh Nusantara. Saat melihat itu semua, saya teringat kembali dinginnya malam Washington DC bulan Februari lalu sebuah percakapan yang akhirnya berubah menjadi tindakan nyata.
Banyak orang mengenal Tony Robbins sebagai motivator terbesar di dunia. Ada yang mengatakan tarif berbicaranya bisa mencapai miliaran rupiah per jam. Ada yang mengenalnya sebagai penulis buku-buku best seller. Ada pula yang mengenalnya sebagai pelatih para CEO, atlet, dan pemimpin dunia. Daftar orang yang pernah belajar atau mendapatkan coaching darinya pun luar biasa panjang mulai dari Bill Clinton, Serena Williams, Andre Agassi, Hugh Jackman, hingga banyak CEO perusahaan global dan atlet kelas dunia. Namun, dari semua yang saya pelajari tentang Tony Robbins, ada tiga pelajaran yang paling membekas.
Pertama, manusia harus berenergi. Tony berkali-kali mengatakan bahwa kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas energi kita. Kita harus menjaga tubuh, berolahraga, makan dengan baik, dan tidur dengan cukup. Energi menentukan cara kita berpikir, cara kita memimpin, dan cara kita melayani. Ketika energi turun, mimpi menjadi kecil. Ketika energi naik, dunia terasa penuh kemungkinan.
Kedua, bermimpilah besar. Tony sering mengingatkan bahwa yang paling sering membatasi manusia bukanlah keadaan, bukan orang lain, dan bukan nasib. Melainkan ukuran mimpi yang ia pasang untuk dirinya sendiri. Jika mimpi kita kecil, hidup kita akan mengecil mengikuti mimpi itu. Tetapi jika mimpi kita besar, perlahan-lahan kita akan tumbuh untuk mengejarnya.
Ketiga, berlatih. Berlatih, lalu berlatih lagi. Di balik setiap kesuksesan yang terlihat, ada ribuan jam latihan yang tidak terlihat. Tidak ada juara dunia yang tidak berlatih. Tidak ada pengusaha besar yang tidak gagal. Tidak ada pemimpin besar yang tidak jatuh bangun. Tony mengajarkan bahwa keberhasilan bukanlah bakat. Keberhasilan adalah pengulangan. Keberhasilan adalah disiplin. Keberhasilan adalah kesediaan untuk bangkit sekali lagi ketika orang lain sudah menyerah.
Ketika saya mengenang malam dingin yang hangat itu di Washington DC, yang paling saya ingat bukanlah nama besar Tony Robbins. Bukan pula reputasinya. Yang saya ingat justru air mata seorang Tony yang pernah menjadi anak kecil yang lapar. Anak kecil itu tumbuh menjadi salah satu pembicara paling terkenal di dunia. Namun, jauh di dalam dirinya, ia tidak pernah melupakan malam ketika keluarganya tidak mampu menyediakan makan malam Thanksgiving. Mungkin karena itulah ia menghabiskan hidupnya memberi makan orang lain. Mungkin karena itulah kalimat yang paling sering ia ucapkan terasa begitu kuat. The secret to living is caring. Rahasia hidup adalah peduli. Pada akhirnya, mungkin memang bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa banyak kepedulian yang berhasil kita berikan kepada sesama sebelum waktu kita di dunia habis.
Artikel Terkait
Drone Iran Ditembak Jatuh di Selat Hormuz, AS Klaim Jalur Perdagangan Tetap Aman
Pemkab Kotabaru Resmi Buka Saijaan Liga Bulutangkis 2026, Diikuti 419 Peserta
Polisi Gagalkan Dua Aksi Tawuran di Jakarta Timur dan Utara, Amankan Puluhan Pemuda dan Sederet Senjata Tajam
Pengemudi Fortuner Kabur Saat Digerebek Polisi di Kasus Narkoba, Babak Belur Dikeroyok Massa di Ciledug