Isu kualitas Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) kembali mencuat. Kali ini, anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDIP, Irine Roba, yang angkat bicara. Menurutnya, penurunan mutu air kemasan itu tak lepas dari dua hal: alur distribusi yang panjang dan penggunaan galon guna ulang yang kerap tak terkontrol.
Namun begitu, masalahnya ternyata lebih dalam. Irine menyoroti sebuah ironi yang cukup menyakitkan.
"Menjadi ironis menurut saya karena Indonesia pernah menjadi tuan rumah World Water Forum 2 tahun yang lalu," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Jumat (13/2/2026).
"Kenapa 2 tahun setelah penyelenggaraan, Indonesia masih belum bisa mandiri dalam tata kelola air yang baik?" tanyanya lagi.
Di sisi lain, ketergantungan masyarakat pada air kemasan, dalam pandangannya, adalah konsekuensi logis. Penyebab utamanya sederhana: pemerintah dinilai belum mampu menyediakan air layak minum langsung dari keran untuk rumah tangga.
"Kenapa orang harus beli air? Karena pemerintah belum bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat Indonesia," tegas Irine.
Padahal, jika air PAM itu sudah aman diminum, masyarakat pasti akan beralih. Alasannya jelas sekali soal harga. Irine menekankan, harga air kemasan di pasaran itu jauh sekali, bahkan berlipat-lipat, dibanding tarif air PDAM.
"Perlu diketahui juga bahwa harga air dalam kemasan itu, harga per liternya 600 kali lipat dari harga air PDAM," tuturnya.
Bagi Irine, persoalan ini bukan sekadar urusan ekonomi sehari-hari. Ini menyangkut hal yang lebih mendasar.
"Bicara soal air adalah bicara tentang kehidupan. Jadi isu ini jangan dianggap sepele," tegasnya.
"Ini benar-benar merupakan hak dasar warga negara untuk bisa mendapatkan air yang baik."
Artikel Terkait
Oknum Polisi Tembak Warga Sipil di Jayapura, Korban Selamat
BMKG Peringatkan Potensi Banjir dan Longsor di Makassar dan Sejumlah Wilayah Sulsel
Kadin Sultra Bagikan 12.000 Paket Sembako Murah Jelang Ramadan
IPK Indonesia Anjlok ke 34, Persepsi Dunia Usua Jadi Pemicu Utama