Menulis Ilmiah di Kampus: Antara Momok dan Hilangnya Tradisi Riset

- Selasa, 03 Februari 2026 | 06:06 WIB
Menulis Ilmiah di Kampus: Antara Momok dan Hilangnya Tradisi Riset

Di sisi lain, faktor eksternal juga punya andil besar. Budaya instan dan tuntutan serba cepat ikut memperkeruh keadaan. Kita hidup di era post-truth, di mana fakta objektif kalah pamor dari opini yang emosional. Polarisasi dan ruang gema informasi seragam akhirnya membunuh nalar kritis. Mahasiswa jadi terjebak, kesulitan membangun hipotesis yang berdasar teori. Alih-alih meneliti, yang terjadi seringkali cuma menyaring ulang informasi atau yang lebih parah, sekadar copy-paste yang kini dibantu oleh kecerdasan buatan.

Survei membuktikan, hambatan terbesar mahasiswa adalah menyusun kalimat dengan urutan logis. Mereka kesulitan merangkai kalimat topik yang baik dan kalimat pendukung yang relevan. Kohesi dan penanda logika yang lemah menunjukkan satu hal: kemampuan merajut ide yang terpencar jadi satu kesatuan yang padu, itu yang hilang.

Masalahnya makin runyam karena sering ada kesenjangan persepsi antara dosen dan mahasiswa. Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan tulisan akademik yang baik?

Berbicara tentang subjektivitas dosen, penulis sendiri merasakan fenomena ini cukup genting. Jika jarak pemahaman antara dosen dan mahasiswa melebar apalagi jika masih dibumbui budaya feodal di kampus sentimen tegang itu justru mengotori integritas penelitian. Percekcokan seringkali cuma soal perbedaan sudut pandang yang tak terselesaikan.

Contohnya? Banyak. Dari soal takaran jumlah kata yang dianggap saklek, struktur pendahuluan yang terlalu kaku, sampai debat tentang relevansi penelitian. Seringkali bagi mahasiswa, topiknya relevan. Tapi bagi dosen, tidak. Dan jawaban yang diberikan kerap tak jelas, cuma permintaan mengganti korpus tanpa penjelasan yang memadai.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Mengembalikan tradisi intelektual di kampus mustahil tanpa merevitalisasi komitmen pada penulisan berbasis riset. Solusinya harus menyeluruh. Mulai dari pelatihan strategi menulis bagi para dosen, pemberian umpan balik yang spesifik dan membangun untuk mahasiswa, hingga menciptakan ruang agar mereka bisa terus berlatih. Mahasiswa perlu didorong membaca literatur akademik secara persisten. Hanya dengan begitu, mereka bisa menemukan suaranya sendiri suara yang berani, kritis, dan yang paling penting, berdasar data.


Halaman:

Komentar