Uni Eropa Resmi Cap IRGC Iran sebagai Organisasi Teroris

- Jumat, 30 Januari 2026 | 06:00 WIB
Uni Eropa Resmi Cap IRGC Iran sebagai Organisasi Teroris

Uni Eropa akhirnya mengambil langkah tegas. Mereka secara resmi menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. Keputusan ini bukan datang tiba-tiba, melainkan respons atas tindakan keras mematikan yang dijalankan terhadap gelombang unjuk rasa antipemerintah di Iran belakangan ini.

Kaja Kallas, sang kepala kebijakan luar negeri UE, yang mengumumkannya pada Kamis. Para menteri luar negeri negara anggota, katanya, sudah sepakat memberi label itu pada IRGC.

"Penindasan tidak boleh dibiarkan tanpa jawaban," tulis Kallas di sebuah unggahan media sosial.

"Setiap rezim yang membunuh ribuan rakyatnya sendiri sedang menuju kehancurannya sendiri."

Reaksi Teheran datang cepat dan keras. Kementerian Luar Negeri Iran langsung mengecam. Mereka menyebut langkah Brussels itu ilegal, politis, dan melanggar hukum internasional sebuah campur tangan kasar dalam urusan dalam negeri mereka.

Tak hanya protes, Iran juga mengeluarkan peringatan. Mereka menyatakan haknya untuk mengambil langkah balasan yang dianggap perlu. Tujuannya, kata mereka, untuk membela kedaulatan dan keamanan nasional, sambil menuntut pertanggungjawaban Uni Eropa atas segala konsekuensi yang mungkin timbul.

IRGC sendiri bukanlah angkatan militer biasa. Didirikan pasca-Revolusi 1979, korps ini adalah pasukan elit yang langsung bertanggung jawab pada Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Mereka punya pengaruh besar, mengawasi program strategis seperti rudal dan nuklir negara itu.

Di sisi lain, bukan hanya IRGC yang jadi sasaran. Pada hari yang sama, Dewan Eropa mengumumkan paket sanksi terpisah. Sasaran mereka adalah 15 individu dan enam entitas yang dituding bertanggung jawab atas pelanggaran HAM serius selama penindasan protes.

Dua nama yang mencolok dalam daftar itu adalah Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni dan Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad.

Gelombang kecaman internasional terhadap Iran memang kian menguat. Pemicunya adalah cara otoritas menggunakan kekerasan untuk meredam aksi unjuk rasa besar-besaran yang pecah akhir bulan lalu. Kemarahan publik awalnya meledak karena inflasi yang meroket dan persoalan sosial-ekonomi yang mencekik.

Soal korban jiwa, angkanya simpang siur dan jadi bahan perdebatan sengit. Otoritas Iran mengonfirmasi 3.117 kematian termasuk warga sipil dan aparat. Mereka berkeras kerusuhan ini dipicu oleh pihak asing, terutama Israel dan AS.

Namun, versi lain datang dari kelompok aktivis. Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan angka yang jauh lebih tinggi: sedikitnya 6.373 orang tewas, dengan 5.993 di antaranya adalah pengunjuk rasa.

Kedua klaim itu, sayangnya, sulit diverifikasi secara independen di tengah situasi yang tertutup.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler