Dini hari yang sunyi di Medan tiba-tiba riuh. Markas sebuah organisasi masyarakat yang seharusnya jadi tempat berkumpul, malah berubah jadi sarang judi. Polisi menggerebeknya Rabu (28/1) lalu. Hasilnya, empat orang diamankan: dua pemain, seorang bandar, plus seorang penjaga gerbang. Mereka kini berstatus tersangka.
Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, mendatangi langsung lokasi keesokan harinya. Ia membeberkan temuan yang cukup mengejutkan.
"Di dua ruko ini, kami temukan setidaknya enam mesin dingdong. Saat itu lagi dalam perbaikan. Empat orang berhasil kami amankan di tempat," ujar Calvijn, Kamis (29/1).
Menurutnya, polisi sudah melakukan prarekonstruksi untuk mencocokkan semua keterangan. Proses itu mengungkap tidak sedikit adegan.
"Awalnya kami catat 14 adegan. Setelah dikoreksi, bertambah enam. Total jadi 20 adegan yang terungkap," jelasnya.
Peran masing-masing tersangka pun mulai jelas. MH yang masih 19 tahun diduga jadi bandar atau kasir. Lalu ada HS (29) dan A (57) yang berperan sebagai pemain. Sementara DH bertugas menjaga pintu masuk.
"Enam adegan tambahan itu menarik. Kami temukan fakta dua pemain dan bandar main bersama. Lalu ada juga adegan penyerahan chip dan uang di lokasi," tambah Calvijn.
Buronan: Ketua PAC dan Sang Istri
Operasi ini belum sepenuhnya beres. Masih ada dua buronan atau DPO yang diburu polisi. Mereka adalah FS, sang ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) ormas itu, dan EH, istrinya. Keduanya didalangi pengelolaan tempat judi ilegal ini.
Peran FS disebut aktif. Dialah yang merekrut dan melatih sang bandar muda, MH, untuk mengoperasikan mesin judi. FS juga yang merekrut penjaga pintu.
"FS yang rekrut dan ajarin si bandar soal tugas dan tanggung jawabnya. Dia pula yang rekrut penjaga pintu," kata Calvijn.
Sementara itu, EH diduga jadi penampung uang. Uang harian dari bandar MH disetorkan ke dia. Modusnya, kalau pemain kehabisan uang tunai, transfer langsung dilakukan ke rekening EH.
"DPO EH biasa datang ke sini ketemu bandar untuk ambil uang. Untuk pemain yang bayar non-tunai, transfernya langsung ke rekening dia," ungkap Calvijn.
Omzet Fantastis, Mesin Rusak Berjejer
Soal omzet, angkanya bikin mengernyit. Praktik ini diduga meraup ratusan ribu hingga jutaan rupiah per harinya. Calvijn menyebut pemeriksaan masih berjalan, terutama terhadap sederet mesin yang ada.
"Kami baru periksa satu mesin. Masih ada enam mesin lain yang sedang dalam proses perbaikan," ucapnya.
"Selain itu, ada 24 mesin lagi yang kondisinya rusak dan juga sedang diperbaiki," sambungnya.
Tempat ini disebut sudah beroperasi sekitar tiga bulan terakhir. Namun, polisi masih mendalami semua keterangan. Penyidikan terus digenjot untuk mengungkap jaringan sepenuhnya.
"Dari BAP tersangka sementara ini, operasi mereka berjalan tiga bulan. Tapi penyidik masih mendalami keterangan lain untuk kepastian yang lebih akurat," pungkas Calvijn menutup penjelasan.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu