Es Gabus Palsu Berujung Damai di Masjid Bogor

- Rabu, 28 Januari 2026 | 13:48 WIB
Es Gabus Palsu Berujung Damai di Masjid Bogor

Selasa malam (27/1) di sebuah masjid di Desa Rawa Panjang, Kabupaten Bogor, suasana akhirnya cair. Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo berhasil menemui pedagang es gabus, Suderajat. Pertemuan yang dinanti-nanti itu berujung pada sebuah kesepakatan damai.

Di ruangan yang tenang itu, kedua aparat menyampaikan permohonan maaf. Mereka mengakui khilaf yang telah terjadi. Suderajat, mendengarkan. Dan setelah itu, ia memutuskan untuk menerima permintaan maaf tersebut. Dengan begitu, persoalan pun disepakati untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

“Izin Pak Derajat,” ucap Ikhwan membuka pembicaraan. “Sebelumnya saya Ikhwan dan Pak Heri datang ke mari ingin meminta maaf atas khilafan yang sudah terjadi. Tidak ada niat untuk bersinggungan. Semoga Bapak rida dan tidak akan ada masalah lagi.”

“Insyaallah ke depannya Pak ya, tidak ada masalah lagi. Kita bersaudara Pak ya. Biar Allah yang menilai semuanya Pak ya. Makasih banyak Pak Derajat,” lanjutnya, mencoba merajut kembali hubungan yang sempat renggang.

Heri Purnomo pun tak kalah tulus. Suaranya rendah penuh penyesalan.

“Saya meminta maaf dari lubuk hati saya paling dalam,” ujarnya.

Peristiwa yang memicu pertemuan ini memang sempat ramai. Beberapa waktu sebelumnya, Suderajat diamankan di wilayah Kemayoran. Ia dituding menjual es gabus palsu dengan bahan berbahaya. Cerita itu langsung menyebar cepat di media sosial, memantik perhatian banyak orang.

Menurut pengakuan Suderajat, saat proses pengamanan dulu, ia merasakan perlakuan yang tidak mengenakkan dari kedua oknum tersebut. Pengalaman itulah yang kemudian memicu gelombang simpati.

Namun begitu, dengan berjabat tangan dan permintaan maaf yang disampaikan malam itu, kedua belah pihak berharap lembaran baru bisa dimulai. Mereka ingin peristiwa serupa tak terulang lagi. Lebih dari itu, proses damai ini diharapkan bisa jadi pelajaran berharga bagi siapa saja dalam menyelesaikan masalah di tengah masyarakat. Bukan dengan emosi, tapi dengan dialog dari hati ke hati.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar