Amien Rais Soroti Perpecahan Umat dan Ancaman Munafik di Silaturahmi Bogor

- Rabu, 28 Januari 2026 | 06:50 WIB
Amien Rais Soroti Perpecahan Umat dan Ancaman Munafik di Silaturahmi Bogor
Catatan dari Silaturahmi di Bogor

Bogor – Ada satu musibah yang diam-diam melanda umat Islam di Indonesia. Begitulah kira-kira gambaran yang dilontarkan Prof. Dr. M. Amien Rais, MA. Menurutnya, semangat untuk bersatu dan berjuang bersama mulai memudar. Penyebabnya? Seringkali hal-hal yang sebenarnya tidak prinsipil, atau dalam istilah agama disebut furu’iyyah.

“Jangan cuma karena urusan azan atau qunut, lantas kita saling menyalahkan,” ujarnya.

Amien Rais menyampaikan hal itu dalam sebuah acara silaturahmi yang hangat. Bertempat di kediaman mendiang MS Kaban di Kota Bogor, Selasa lalu (27/1/2026), sejumlah tokoh dan aktivis Islam berkumpul. Suasana terasa akrab.

Hadir dalam pertemuan itu, selain tuan rumah almarhum MS Kaban yang pernah menjabat Menteri Kehutanan, juga Ustaz Ansufri Idrus Sambo dari Dewan Syuro Partai Ummat. Tak ketinggalan, Ustaz Maizar Madsury (Ketua Muhammadiyah Kota Bogor) dan Ustaz Abdul Halim (Ketua Dewan Dakwah Kota Bogor). Perwakilan dari Partai Ummat dan organisasi Islam lain di Bogor juga turut memadati acara.

Di sisi lain, Amien juga mengingatkan bahaya lain yang mengintai: kemunafikan. Ia mengutip QS At-Taubah ayat 67. Intinya, keimanan itu harus terlihat nyata dalam tindakan dan komitmen, bukan cuma kata-kata.

Menurutnya, Islam punya potensi luar biasa untuk membangun peradaban. Tapi syaratnya, umatnya harus mengedepankan iman dan amal saleh yang tulus. Bukan cuma simbol dan formalitas belaka. Ia lalu mengutip QS At-Taubah ayat 111 sebagai pengingat bahwa perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam memang butuh pengorbanan. Butuh keteguhan hati.

“Prinsip Islam itu sebenarnya sederhana,” katanya.

“Pertama, iman yang kuat. Dari situ, baru lahir amal saleh. Misalnya mendirikan lembaga pendidikan, rumah sakit, atau membangun kekuatan umat di bidang lain.”

Sebagai pesan pribadi, Amien mengajak semua yang hadir untuk rajin membaca Al-Qur’an. Waktu yang ia sarankan? Antara Maghrib dan Isya. Katanya, kebiasaan ini bisa bikin pandangan kita lebih jernih dalam melihat hidup.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog. Para peserta cukup aktif menyampaikan pandangan. Isunya beragam, mulai dari soal konstitusi, dinamika politik nasional, sampai urusan regenerasi kepemimpinan di tubuh umat Islam sendiri.

Menanggapi hal itu, Amien menekankan pentingnya belajar langsung dari para tokoh. Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak kehilangan semangat juang, meski teknologi sudah sedemikian maju.

“Sekarang kan semuanya sibuk sama gadget. Bahkan AI sudah ada, hidup serba mudah,” ujarnya.

“Tapi jangan sampai kita terlena. Ilmu agama tetaplah pondasi utama untuk meraih kebahagiaan dan melanjutkan perjuangan.”

Pembicaraan pun merambah ke isu global. Amien menyoroti wacana Board of Peace atau dewan perdamaian yang digagas Presiden AS Donald Trump terkait Palestina. Kritiknya keras. Ia menilai pernyataan Trump yang pernah mengusulkan pengosongan Gaza sebagai sikap yang tidak berperikemanusiaan. Bahkan berpotensi mengancam perdamaian dunia.

Sementara untuk masalah dalam negeri, Amien menyoroti persoalan oligarki yang masih kuat. Konflik kepentingan dan lemahnya etika di lingkaran kekuasaan, menurutnya, adalah bagian dari krisis yang kita hadapi sekarang. Reformasi sejati, tegasnya, butuh perubahan kekuasaan yang substantif. Bukan sekadar perbaikan di permukaan.

Sebelum acara ditutup, mantan Ketua MPR itu berpesan agar umat Islam tetap istiqamah. Berpegang teguh pada prinsip, dan jangan mudah menyerah meski tekanan datang bertubi-tubi.

“Allah tidak pernah ingkar janji,” pungkasnya dengan tegas.

“Kemenangan akan datang untuk mereka yang terus berjuang.”

Reporter: zakaria

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini