Bogor – Ada satu musibah yang diam-diam melanda umat Islam di Indonesia. Begitulah kira-kira gambaran yang dilontarkan Prof. Dr. M. Amien Rais, MA. Menurutnya, semangat untuk bersatu dan berjuang bersama mulai memudar. Penyebabnya? Seringkali hal-hal yang sebenarnya tidak prinsipil, atau dalam istilah agama disebut furu’iyyah.
“Jangan cuma karena urusan azan atau qunut, lantas kita saling menyalahkan,” ujarnya.
Amien Rais menyampaikan hal itu dalam sebuah acara silaturahmi yang hangat. Bertempat di kediaman mendiang MS Kaban di Kota Bogor, Selasa lalu (27/1/2026), sejumlah tokoh dan aktivis Islam berkumpul. Suasana terasa akrab.
Hadir dalam pertemuan itu, selain tuan rumah almarhum MS Kaban yang pernah menjabat Menteri Kehutanan, juga Ustaz Ansufri Idrus Sambo dari Dewan Syuro Partai Ummat. Tak ketinggalan, Ustaz Maizar Madsury (Ketua Muhammadiyah Kota Bogor) dan Ustaz Abdul Halim (Ketua Dewan Dakwah Kota Bogor). Perwakilan dari Partai Ummat dan organisasi Islam lain di Bogor juga turut memadati acara.
Di sisi lain, Amien juga mengingatkan bahaya lain yang mengintai: kemunafikan. Ia mengutip QS At-Taubah ayat 67. Intinya, keimanan itu harus terlihat nyata dalam tindakan dan komitmen, bukan cuma kata-kata.
Menurutnya, Islam punya potensi luar biasa untuk membangun peradaban. Tapi syaratnya, umatnya harus mengedepankan iman dan amal saleh yang tulus. Bukan cuma simbol dan formalitas belaka. Ia lalu mengutip QS At-Taubah ayat 111 sebagai pengingat bahwa perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam memang butuh pengorbanan. Butuh keteguhan hati.
“Prinsip Islam itu sebenarnya sederhana,” katanya.
“Pertama, iman yang kuat. Dari situ, baru lahir amal saleh. Misalnya mendirikan lembaga pendidikan, rumah sakit, atau membangun kekuatan umat di bidang lain.”
Sebagai pesan pribadi, Amien mengajak semua yang hadir untuk rajin membaca Al-Qur’an. Waktu yang ia sarankan? Antara Maghrib dan Isya. Katanya, kebiasaan ini bisa bikin pandangan kita lebih jernih dalam melihat hidup.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog. Para peserta cukup aktif menyampaikan pandangan. Isunya beragam, mulai dari soal konstitusi, dinamika politik nasional, sampai urusan regenerasi kepemimpinan di tubuh umat Islam sendiri.
Artikel Terkait
Felix Siauw Kecam Langkah Prabowo di Davos: Penjajahan Gaya Baru
Kebanggaan yang Membelenggu: Ketika Jalan Sendiri Justru Memperpanjang Penderitaan
Dua Jenderal Puncak China Diselidiki, Isu Kebocoran Data Nuklir Menggantung
Kontroversi Eggi Sudjana: Pecat Kawan, Lapor Lawan