Di tengah kemewahan dan hiruk-pikuk Forum Ekonomi Dunia di Davos kemarin, sebuah visi ambisius untuk Gaza dilontarkan. Bukan oleh seorang diplomat kawakan, melainkan oleh Jared Kushner. Ya, menantu mantan Presiden AS Donald Trump itu, yang meski tak punya jabatan resmi di Gedung Putih saat ini, tetap dikenal sebagai penasihat informal dan negosiator utama bagi sang mantan presiden.
Kini, sebagai anggota eksekutif pendiri “Dewan Perdamaian”, Kushner memaparkan rencananya. Visinya? Mengubah Gaza yang porak-poranda menjadi semacam “Riviera Timur Tengah”.
Angkanya fantastis. Minimal $25 miliar untuk membangun kembali wilayah itu, lengkap dengan pencakar langit dan kota baru. Presentasinya di Davos bertepatan dengan peluncuran dan penandatanganan dewan yang ia ikuti itu. Gagasan besar dari seorang pengusaha miliarder yang pernah memegang peran kunci dalam kebijakan luar negeri AS.
Namun begitu, di luar ruangan ber-AC dan diskusi elite Davos, respons terhadap rencana ini jauh dari hangat. Malah, penuh skeptisisme dan penolakan keras.
Seorang komentator bernama Huthaifa, lewat sebuah cuitan yang kini viral, memberikan tanggapan yang terang dan tanpa basa-basi. Ia menarik paralel sejarah. “Seperti halnya setiap kekaisaran yang hampir runtuh,” tulisnya, “dominasi akan semakin intensif sebelum akhirnya kehilangan cengkeramannya.”
Pendiriannya jelas. “Saya katakan ini dengan lugas: proyek ini akan gagal. Dan akan menyeret serta semua orang yang berupaya memaksakannya.”
Argumennya tak cuma politis, tapi juga spiritual. Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang sama yang sering diulang juru bicara Hamas, Abu Ubaidah, dalam dua tahun terakhir:
Artikel Terkait
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional