Prabowo Baca Sinyal Global, Diplomasi Indonesia Bergerak di Tengah Badai

- Jumat, 16 Januari 2026 | 11:50 WIB
Prabowo Baca Sinyal Global, Diplomasi Indonesia Bergerak di Tengah Badai

Dalam bahasa geopolitik, strategi semacam ini sering disebut strategic hedging. Intinya, menjaga hubungan baik dengan semua pihak Amerika, China, dan lainnya tanpa harus terikat mati pada salah satunya. Posisi Indonesia sebagai middle power atau kekuatan menengah diharapkan bisa menjadi penyeimbang, bahkan mediator jika diperlukan.

Nah, pidato Menlu Sugiono yang menyerukan perdamaian dan dialog multilateral itu sejalan banget dengan strategi tadi. Keunggulannya? Sifatnya yang antisipatif. Pemerintah tidak mau hanya berdiri menunggu konflik meledak di depan mata. Mereka berusaha membaca gejalanya dari jauh-jauh hari.

Beberapa pola yang sedang diamati cukup jelas: konflik identitas yang makin menjadi, lembaga internasional yang melemah, militerisasi di kawasan strategis, hingga perang ekonomi dan sanksi yang dampaknya bisa langsung terasa di dalam negeri.

kata Amir memperingatkan.

Jadi, kebijakan luar negeri sekarang ini tidak bisa dipisahkan dari ketahanan nasional secara keseluruhan. Diplomasi adalah lini pertahanan pertama, benteng non-militer. Dan Indonesia punya modal bagus untuk itu, lewat posisinya di ASEAN dan dunia Islam yang memberi legitimasi moral untuk mendorong perdamaian.

Kesimpulannya, pemerintahan ini paham bahwa Indonesia tidak punya kepentingan untuk ikut berkonflik. Tapi punya kepentingan yang sangat besar untuk menjaga dunia tetap stabil. Semua langkah diplomasi aktif dan pendekatan yang seimbang itu adalah bentuk kematangan.

pungkas Amir Hamzah.

Pada akhirnya, di dunia yang penuh ketidakpastian ini, kepemimpinan yang bisa membaca sinyal dan bergerak cepatlah yang akan bertahan. Dan menurut analisis Amir, itulah yang sedang coba dibangun oleh Prabowo dan Menlu Sugiono.


Halaman:

Komentar