Warga Cipendawa Hadang Alat Berat, Tolak Proyek Panas Bumi di Gunung Gede

- Kamis, 15 Januari 2026 | 02:15 WIB
Warga Cipendawa Hadang Alat Berat, Tolak Proyek Panas Bumi di Gunung Gede

CIANJUR – Suasana di Kampung Pasir Cina, Desa Cipendawa, mendadak tebar Rabu sore kemarin. Puluhan warga, kebanyakan ibu-ibu, memadati jalan untuk menolak proyek panas bumi di Gunung Gede Pangrango. Aksi mereka berujung pada pengadangan terhadap sejumlah alat berat yang hendak melintas.

Alasannya sederhana tapi mendalam: mereka takut. Proyek yang digadang-gadang sebagai energi bersih ini justru dinilai mengancam sumber kehidupan mereka. Kekhawatiran akan kerusakan lingkungan dan mata air menjadi pemicu utama aksi itu.

Begitu suara mesin diesel alat berat itu terdengar mendekat, massa langsung bergerak. Mereka membentuk barisan, menghalangi laju kendaraan proyek. Ketegangan pun tak terhindarkan. Beberapa warga bersikukuh, alat berat itu tak boleh melangkah lebih jauh ke arah hutan.

Koordinator aksi, Aryo Prima, menyuarakan kegelisahan itu dengan lantang.

"Kami minta proyek ini dihentikan. Kami sangat khawatir proyek ini bisa merusak alam di kawasan Gunung Gede Pangrango yang selama ini kami jaga," tegasnya di hadapan massa.

Untungnya, situasi pelik itu berhasil diredam setelah polisi turun tangan melakukan mediasi. Mereka memberi jaminan bahwa tidak akan ada aktivitas pengerjaan hari itu. Janji itu yang akhirnya membuat warga lega, setidaknya untuk sementara.

Dengan pengawalan dari aparat, alat berat itu pun akhirnya diputar balik, meninggalkan pemukiman warga yang sempat hendak dijadikan jalur akses proyek. Warga mengawalnya dari belakang, memastikan mereka benar-benar pergi.

Namun begitu, ini bukan akhir cerita. Suasana memang sudah kondusif, tapi kewaspadaan warga tidak berkurang sama sekali. Mereka mengancam akan kembali menghadang, dengan massa yang lebih besar, jika pengembang nekat memaksakan lagi alat beratnya lewat jalur yang sama.

Hingga kini, warga masih terus berjaga. Mereka memantau setiap pergerakan mencurigakan di sekitar desa, memastikan tak ada satu pun aktivitas proyek yang berjalan tanpa persetujuan mereka. Perjuangan untuk alam yang mereka cintai tampaknya masih panjang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar