Anggota DPR Soroti iPusnas yang Sering Macet dan Kondisi Perpustakaan yang Memprihatinkan

- Rabu, 14 Januari 2026 | 19:15 WIB
Anggota DPR Soroti iPusnas yang Sering Macet dan Kondisi Perpustakaan yang Memprihatinkan

Ruang sidang Gedung DPR RI pada Rabu (14/1) itu cukup ramai. Di hadapan jajaran Perpustakaan Nasional, anggota Komisi X DPR Bonnie Triyana tak segan menyampaikan kritik pedas. Sorotannya tajam, menyentuh dua hal: layanan digital yang bermasalah dan kondisi memprihatinkan sejumlah perpustakaan daerah.

Bonnie bercerita, iPusnas jadi andalannya saat malas keluar rumah. Tapi belakangan, aplikasi itu sering macet.

"Kalau lagi sedang malas pergi, saya biasanya akses iPusnas. Tetapi belakangan ini iPusnas sering macet," ujarnya, sambil menunjukkan ponselnya kepada para hadirin.

Pengalamannya sendiri cukup menyebalkan. Proses mengunduh buku tiba-tiba terhenti karena sistem terkunci sendiri. Ia juga menemukan pengumuman pemeliharaan yang katanya selesai 8 Januari. Nyatanya, hingga hari rapat itu 14 Januari akses masih saja tersendat. Politisi PDI Perjuangan ini lantas mengingatkan, efisiensi anggaran jangan sampai mengorbankan layanan publik yang paling dasar. Meski dana terbatas, ia mendorong Perpusnas mencari solusi yang lebih inovatif.

Persoalan tak cuma di dunia digital. Legislator dari dapil Pandeglang-Lebak itu lalu bicara soal kondisi perpustakaan di akar rumput. Datanya mencengangkan: Indonesia punya 21.086 perpustakaan desa, 807 di kecamatan, dan 495 di kabupaten/kota.

"Artinya, masih ada 19 kabupaten/kota yang belum punya perpustakaan," katanya.

Belum lagi lima provinsi baru yang juga kosong dari perpustakaan. Ia menceritakan kunjungannya ke salah satu perpustakaan. Keadaannya memprihatinkan.

"Saya datang ke sana, koleksinya disimpan di satu ruangan tanpa pendingin; lembap. Kita tahu kondisi kelembapan tinggi di Indonesia, buku harus dirawat," tutur Bonnie.

Di sisi lain, perhatiannya juga tertuju pada warisan intelektual para pendiri bangsa. Bonnie secara khusus menyebut perpustakaan pribadi Bung Hatta di Jalan Proklamasi, yang terletak di lantai dua rumahnya, dan koleksi buku Bung Karno yang tersebar.

"Perpustakaan Bung Karno dan Bung Hatta ini juga tolong diperhatikan," pinta dia.

"Sebagian buku Bung Karno ada di Istana Bogor, sebagian ada di Balai Kirti. Itu buku-buku yang beliau bawa ketika diasingkan," jelasnya.

Ia mendorong agar koleksi bersejarah itu bisa diakses publik, mungkin lewat koordinasi yang lebih baik antara Perpusnas dan Balai Kirti.

Tak lupa, Bonnie yang pernah menjadi kurator di Rijksmuseum Amsterdam itu menyentuh isu repatriasi. Ia apresiasi upaya pemulangan 42 naskah kuno dari Australia, peninggalan almarhum Timothy Behrend. Langkah itu ia nilai sebagai bagian dari dekolonisasi pengetahuan. Tapi, pertanyaan besarnya justru ada di kemudian hari.

"Ketika saya lihat anggaran, kira-kira sanggup enggak merawat naskah-naskah kuno yang dipulangkan tadi? Kita saja kadang tidak mampu merawat karena keterbatasan anggaran," tandasnya, menyisakan pertanyaan yang menggantung di ruang rapat.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar