Ruang sidang Gedung DPR RI pada Rabu (14/1) itu cukup ramai. Di hadapan jajaran Perpustakaan Nasional, anggota Komisi X DPR Bonnie Triyana tak segan menyampaikan kritik pedas. Sorotannya tajam, menyentuh dua hal: layanan digital yang bermasalah dan kondisi memprihatinkan sejumlah perpustakaan daerah.
Bonnie bercerita, iPusnas jadi andalannya saat malas keluar rumah. Tapi belakangan, aplikasi itu sering macet.
"Kalau lagi sedang malas pergi, saya biasanya akses iPusnas. Tetapi belakangan ini iPusnas sering macet," ujarnya, sambil menunjukkan ponselnya kepada para hadirin.
Pengalamannya sendiri cukup menyebalkan. Proses mengunduh buku tiba-tiba terhenti karena sistem terkunci sendiri. Ia juga menemukan pengumuman pemeliharaan yang katanya selesai 8 Januari. Nyatanya, hingga hari rapat itu 14 Januari akses masih saja tersendat. Politisi PDI Perjuangan ini lantas mengingatkan, efisiensi anggaran jangan sampai mengorbankan layanan publik yang paling dasar. Meski dana terbatas, ia mendorong Perpusnas mencari solusi yang lebih inovatif.
Persoalan tak cuma di dunia digital. Legislator dari dapil Pandeglang-Lebak itu lalu bicara soal kondisi perpustakaan di akar rumput. Datanya mencengangkan: Indonesia punya 21.086 perpustakaan desa, 807 di kecamatan, dan 495 di kabupaten/kota.
"Artinya, masih ada 19 kabupaten/kota yang belum punya perpustakaan," katanya.
Belum lagi lima provinsi baru yang juga kosong dari perpustakaan. Ia menceritakan kunjungannya ke salah satu perpustakaan. Keadaannya memprihatinkan.
Artikel Terkait
Ketika Dana Pendidikan Dikorbankan Demi Sepiring Nasi Gratis
Dua Tahun Berlalu, Pesona The Oath of Love Tak Juga Pudar
Ahli Tegaskan: Surat Berharga Tak Bisa Lahir dari Tukar Guling
Di Balik Balok Warna, Sebuah Kata Berjuang Lahir