Publik sebenarnya sudah bisa menilai. Akar friksi ini bukanlah idealisme, melainkan pragmatisme semata. Sikap mementingkan dan menyelamatkan diri sendiri itulah sumber penyakitnya. TPUA yang didirikan oleh para ulama, justru dirusak oleh Ketum-nya sendiri yang mari kita akui bukanlah seorang ulama. Dia gagal menjaga marwah ulama.
Seharusnya, setelah langkah blunder "sowan" ke Solo apalagi dalam konteks meminta-minta restorative justice responnya bukan malah memecat orang yang tidak terlibat.
Eggi-lah yang seharusnya mundur dari jabatan Ketum. Dia harus segera bertobat. Meminta maaf kepada ulama dan umat yang telah memberi amanat. Karena pada faktanya, dia telah merusak marwah dan martabat yang dijaga selama ini.
Jalannya sudah jelas. Awalnya hanya di simpang jalan, lalu berdiri di tepi jurang. Akhirnya? Bisa tenggelam dalam kubangan limbah kepalsuan, kemunafikan, dan kebodohan.
Sungguh, kasihan.
Artikel Terkait
Enam Miliar Sehari vs Jerih Payah Rakyat: Cuitan Bang Edi yang Bikin Sesak
Teheran Gelar Unjuk Rasa Besar-besaran, Jawab Protes dengan Ancaman ke AS
Dua Wajah Jalan di Perbatasan Banten-Jabar, Warga: Seperti Dua Dunia
Permintaan Modal Pedagang Papua Menyambut Kunjungan Gibran di Pasar Potekelek