Publik sebenarnya sudah bisa menilai. Akar friksi ini bukanlah idealisme, melainkan pragmatisme semata. Sikap mementingkan dan menyelamatkan diri sendiri itulah sumber penyakitnya. TPUA yang didirikan oleh para ulama, justru dirusak oleh Ketum-nya sendiri yang mari kita akui bukanlah seorang ulama. Dia gagal menjaga marwah ulama.
Seharusnya, setelah langkah blunder "sowan" ke Solo apalagi dalam konteks meminta-minta restorative justice responnya bukan malah memecat orang yang tidak terlibat.
Eggi-lah yang seharusnya mundur dari jabatan Ketum. Dia harus segera bertobat. Meminta maaf kepada ulama dan umat yang telah memberi amanat. Karena pada faktanya, dia telah merusak marwah dan martabat yang dijaga selama ini.
Jalannya sudah jelas. Awalnya hanya di simpang jalan, lalu berdiri di tepi jurang. Akhirnya? Bisa tenggelam dalam kubangan limbah kepalsuan, kemunafikan, dan kebodohan.
Sungguh, kasihan.
Artikel Terkait
Al Nassr Bangkit dari Ketertinggalan, Raih Kemenangan 3-1 Berkat Gol Bunuh Diri Lawan dan Al Hamdan
Bayern Munich Kalahkan Borussia Dortmund 3-2 dalam Laga Sengit Der Klassiker
Prabowo: Kebersamaan Imlek dan Ramadhan Wajah Asli Indonesia
Jadwal Imsak dan Salat untuk Warga Medan, 1 Maret 2026