SBY Peringatkan Bahaya Perpecahan di Puncak Natal Demokrat

- Senin, 12 Januari 2026 | 21:54 WIB
SBY Peringatkan Bahaya Perpecahan di Puncak Natal Demokrat

Malam itu, di sebuah ballroom Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, suasana khidmat menyelimuti acara Puncak Perayaan Natal Nasional Partai Demokrat. Di atas panggung, Susilo Bambang Yudhoyono Ketua Majelis Tinggi partai tersebut menyampaikan pidatonya. Isinya cukup menggelitik. Menurut SBY, tak sedikit negara di dunia ini yang seolah kehilangan arah, terperangkap dalam kegelapan tanpa secercah harapan untuk esok hari.

Pernyataan itu ia lontarkan pada Senin (12/1) malam, di hadapan kader dan undangan yang hadir. Suasana hening sejenak menyambut kata-katanya.

“Bapak, Ibu, dan hadirin yang saya muliakan. Dunia banyak memberikan pelajaran,” ujar Presiden keenam Republik Indonesia itu memulai.

“Banyak negara, banyak bangsa yang hidup dalam kegelapan dan tidak memiliki harapan atas masa depannya.”

Lalu, apa penyebabnya? SBY punya analisis sendiri. Menurutnya, semua berawal dari kegagalan sebuah bangsa menjaga ikatan persaudaraan. Kerukunan yang retak, ujung-ujungnya cuma melahirkan perpecahan. Pertikaian dan permusuhan jadi menu sehari-hari. Situasi seperti itulah yang harus dihindari Indonesia. “Bukan itu pilihan yang mesti dipilih oleh bangsa kita,” tegasnya.

Intinya jelas: jangan sampai negeri ini ikut-ikutan menjadi negara yang gagal. Pesannya terdengar seperti peringatan, tapi juga sekaligus harapan.

Di sisi lain, SBY menekankan peran sentral pemerintah dan para pemimpin. Tanggung jawab moral ada di pundak mereka. Tugasnya adalah memastikan bangsa ini tetap bersatu, rukun, dan dipenuhi semangat persaudaraan tidak hanya untuk sekarang, tapi untuk seterusnya.

“Oleh karena itu negara, pemerintah, para pemimpin bertanggung jawab secara moral untuk memastikan bangsa kita ini sampai kapan pun akan tetap rukun, bersatu dengan persaudaraan yang tinggi,” tandasnya menutup segmen pidato tersebut.

Pidato yang berdurasi tidak terlalu panjang itu meninggalkan kesan mendalam. Nuansa reflektif dan kekhawatiran akan masa depan bangsa terasa begitu kuat, disampaikan dengan gaya khas SBY yang tenang namun penuh wibawa.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar