Pindahkan Saja Gunungnya: Celoteh Gimah yang Viral di Tengah Duka Semeru

- Senin, 12 Januari 2026 | 17:50 WIB
Pindahkan Saja Gunungnya: Celoteh Gimah yang Viral di Tengah Duka Semeru

Seorang wanita paruh baya di Lumajang tiba-tiba jadi perbincangan hangat di media sosial. Namanya Gimah, warga Desa Supiturang. Di tengah suasana mencekam pasca-erupsi Gunung Semeru, ia melontarkan permintaan yang bikin orang tersenyum geleng-geleng.

"Coba dipindah saja bapak itu gunungnya," ujarnya dengan polos. "Dipindah ke mana gitu. Biar saya aman di sini."

Kalimat itu, meski terdengar seperti lelucon, sebenarnya berangkat dari kelelahan yang mendalam. Gimah sudah terlalu sering menghadapi amukan Semeru. Desa tempat tinggalnya seolah jadi langganan bencana.

"Masak empat tahun sekali (erupsi)," keluhnya. Lalu dengan nada berseloroh, ia menambahkan, "Coba tanya Bu Indah itu (Bupati Lumajang) bisa tidak ditutup gunungnya. Se-Indonesia saja dibawa semennya ke sini, tidak akan ada separuhnya."

Celoteh Gimah itu tersebar lewat akun TikTok @tni_in_action. Hingga Senin lalu, videonya ditonton lebih dari 1,7 juta kali. Banyak yang tertawa, tapi sebenarnya di balik itu tersimpan trauma seorang warga yang hidup di kaki gunung berapi.

Ia masih ingat betul teror erupsi pada Rabu, 19 November 2025 itu. Saat itu, Gimah yang tinggal di Dusun Gumukmas mengira itu hanya lahar biasa. Tapi dugaannya salah.

"Saya tidak ke mana-mana. Tapi kok semakin lama semakin besar," kenangnya. "Saya lari ke Supiturang, debunya semakin besar dan panas."

Untungnya, rumahnya tidak rusak parah. Hanya bagian depan yang terdampak. "Alhamdulillah. Sekarang masih November, jadi tidak menyangka akan erupsi lagi," ucap Gimah.

Di sisi lain, sementara ucapan Gimah ramai dibicarakan, upaya mitigasi di lapangan terus berjalan. TNI lewat Korem 083/Baladhika Jaya tak berhenti bekerja. Mereka fokus merevitalisasi aliran lahar dan membangun tanggul pertahanan.

Peltu Suwandi, personel Penerangan Korem, menjelaskan pekerjaan yang sedang dikebut. "Alat-alat berat di belakang ini sedang membuat tanggul," katanya.

Harapannya jelas: membentengi warga dari ancaman lahar susulan. "Agar material tidak meluber ke pemukiman di Desa Supiturang," tegas Suwandi.

Jadi, di balik viralnya seorang Gimah dengan permintaan yang mustahil, ada dua cerita yang berjalan beriringan. Satu tentang kejenakaan manusia yang mencoba menghadapi ketakutan dengan humor. Satunya lagi tentang kerja nyata dan keringat, berusaha mengalahkan alam dengan persiapan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar