Relawan Kesehatan Terpaksa Transit ke Malaysia, Tiket Pesawat Lokal Dinilai Selangit

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:24 WIB
Relawan Kesehatan Terpaksa Transit ke Malaysia, Tiket Pesawat Lokal Dinilai Selangit

Rapat Koordinasi Satgas Penanggulangan Pascabencana DPR RI dengan Pemerintah di Aceh, Sabtu lalu, menyoroti persoalan yang cukup pelik. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, pengiriman relawan kesehatan ke Sumatera terhambat oleh biaya tiket pesawat yang selangit.

Padahal, menurut Budi, minat untuk membantu justru sangat besar. Relawan berdatangan dari berbagai penjuru dikirim pemda, rumah sakit, fakultas kedokteran, sampai dari tubuh Ikatan Dokter Indonesia sendiri. Tapi niat baik itu terbentur harga tiket.

"Karena kita ngirimnya tuh dua minggu tuh 800, 700 (relawan). Akhirnya kemarin sempat, ya karena kita yang penting jalan kan, kita kirim lewat Malaysia. Karena murah tuh lewat kirim ke Malaysia tiketnya bisa Rp 2 juta, Rp 3 juta, kan," ujar Budi.

Solusi transit via Malaysia itu memang memangkas biaya. Namun, menimbulkan cerita lain yang bikin tak enak hati.

Bayangkan saja. Sekitar 400 relawan Kemenkes tiba dari Malaysia dengan seragam biru khas mereka. Lalu, muncullah postingan di media sosial. "Alhamdulillah relawan kesehatan Malaysia datang," begitu kira-kira bunyinya.

"Jadi kan kita juga jadi, kok enggak enak gitu di sananya," ungkap Menkes dengan nada kesal. Situasi itu jelas tak ingin terulang.

Karenanya, Budi pun mengajukan permintaan khusus. Ia berharap ada kebijakan tiket pesawat dengan harga khusus untuk relawan bencana. Harganya jangan sampai jauh berbeda dengan tiket transit via Malaysia.

"Jadi itu permintaan pertama kita. Mungkin ke Pak Tito dan Satgas DPR, kalau bisa tiket harganya jangan terlalu jauh gitu dengan yang lewat Malaysia," tuturnya.

Permintaan ini mendesak. Ke depan, Kemenkes masih harus mengirimkan banyak tenaga. Mereka akan disebar di ribuan posko pengungsian yang tersebar.

"Padahal kita butuh 700-800 kita kirim per dua minggu untuk bantu teman-teman tenaga kesehatan Aceh, terutama di pos pengungsian dan di desa-desa terpencil," ucap Budi menegaskan.

Di sisi lain, respons dari TNI cukup menggembirakan. Brigjen Anggit Exton, stafsus Kasum TNI, menyatakan kesiapan pihaknya untuk membantu mobilisasi.

"Tadi kami coba mengub Waasops Kasau. Jadi dari Waasops Kasau intinya siap mendukung kalau perintah dari Panglima TNI," ujar Anggit.

"Sehingga nanti tidak perlu membeli tiket atau segala macam. Bisa menggunakan hercules," tambahnya.

Jadi, jalan keluar mungkin sudah terlihat. Tinggal menunggu koordinasi dan eksekusi lebih lanjut agar bantuan bisa sampai dengan lancar dan harga diri tetap terjaga.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar