Tawa Anak-anak Kembali Bergema di Huntara Aceh Tamiang

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:12 WIB
Tawa Anak-anak Kembali Bergema di Huntara Aceh Tamiang

Suasana di Kompleks Rumah Hunian Danantara, Aceh Tamiang, pagi itu benar-benar berbeda. Ada energi baru yang terasa. Setelah berminggu-minggu hidup dalam keprihatinan di tenda pengungsian, warga akhirnya bisa menghirup napas lega. Rumah-rumah sementara yang dibangun pemerintah melalui BUMN kini mulai dihuni, mengubah wajah lokasi itu dari tempat pengungsian menjadi permukiman yang penuh harapan.

Anak-anaklah yang paling jelas memperlihatkan perubahan itu. Tawa mereka riang memecah kesunyian, berlarian mengejar satu sama lain di antara deretan rumah yang rapi. Beberapa asyik bermain ayunan di taman yang disediakan sebuah kemewahan yang tak terbayangkan saat masih di tenda. Di dalam unit hunian, ada yang seenaknya melompat-lompat di atas kasur baru. Pemandangan sederhana, tapi maknanya dalam: rasa aman dan normalitas perlahan pulih.

Orang tua mereka tampak lebih tenang. Duduk-duduk di kursi taman depan rumah, mengawasi buah hati mereka bermain. Ekspresi lelah dan cemas mulai sirna, tergantikan oleh senyum lega. “Senang sekali saya, senang. Rasanya jangan dipindah lagi,” ujar Rika Jahara, salah satu penghuni, suaranya bergetar haru.

“Terima kasih pemerintah sudah dikasih tempat tinggal kami. Soalnya rumah kita tidak ada lagi. Terima kasih pemerintah.”

Memang, hunian sementara ini jauh dari kesan darurat. Masing-masing unit punya pintu dan jendela untuk sirkulasi udara. Di dalamnya sudah tersedia perlengkapan dasar: dua tempat tidur, lemari, kipas angin, bahkan meja makan. Jalan setapak antarblok dilapisi rumput buatan yang hijau, dipadukan pot-pot tanaman di setiap pintu. Yang tak kalah penting, listrik dan akses wifi gratis dari Telkom Indonesia sudah terpasang, menjaga warga tetap terhubung.

Dukungan infrastruktur juga diperhatikan. Tak jauh dari kompleks, sebuah klinik kesehatan beroperasi penuh. Kepala Dinas Kesehatan setempat, Dokter Mustakif, memastikan layanan berjalan optimal untuk semua kalangan.

“Di belakang kami, ini ada klinik kesehatan. Tiap hari dan tanpa ada hari libur, baik anak kecil, bayi, sampai dengan lansia, dengan yang penyintas ataupun yang beresiko, termasuk ibu hamil nanti,” jelasnya.

Namun begitu, kenangan akan bencana masih membekas. Siti Rahma, warga Kampung Sukajadi, sulit melupakan malam ketika banjir bandang menerjang akhir November lalu. Air sungai yang biasanya naik-turun dengan wajar, kali itu tak terkendali. “Saat malam tiba, rumah kita sudah tersapu banjir. Rumah kami sudah tidak ada lagi,” kenangnya. Ia dan keluarganya terpaksa mengungsi, bertahan di posko dengan harapan satu hal: punya tempat berkumpul lagi.

Harapan itu kini terjawab. Pada Kamis pekan lalu, Siti dan keluarganya pindah ke huntara. Bagi mereka, ini lebih dari sekadar tempat berteduh. “Kami alhamdulilah, senang sekali karena dapat rumah hunian sementara dari bapak Presiden,” ungkap Siti, mewakili rasa syukur ratusan penghuni lain. Yati, warga lainnya, mengangguk setuju.

“Alhamdulilah, kami senang sekali karena bisa berteduh sama keluarga,” katanya.

Rumah-rumah modular ini dibangun cepat, tapi dengan kualitas yang baik. Fungsinya jelas: bukan cuma untuk berlindung, melainkan sebagai ruang pemulihan. Di sinilah, di antara tawa anak dan obrolan ringan para orang tua, kehidupan baru benar-benar dimulai. Sebuah awal yang sederhana, penuh syukur, dan yang terpenting, memberi mereka tanah pijakan untuk membangun kembali masa depan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar