Di sebuah ruang kecil yang biasa dipakai untuk shalat di rumahnya, nasib tragis menimpa seorang anak berusia sembilan tahun. MAHM, putra politisi PKS Maman Suherman, ditemukan tewas bersimbah darah. Kejadian ini mengguncang Perumahan BBS III, Ciwaduk, Kota Cilegon, Banten.
Posisinya agak tertelungkup di lantai, tepat di depan lemari kamar. Tempat yang seharusnya penuh ketenangan itu berubah menjadi lokasi kejahatan yang mengerikan.
Maman Suherman, sang ayah, masih jelas mengingat detik-detik ia menemukan putranya. Dalam wawancaranya pada Selasa lalu, ia menggambarkan suasana saat itu.
Ceritanya berlanjut. Saat kejadian, Maman sedang bekerja di kantor. Telepon dari putranya yang lain, Dafara, mengubah segalanya. Ia menerima video call yang memperlihatkan adiknya sudah tak bernyawa dan berlumuran darah.
Awalnya, pikiran buruknya hanya sebatas kecelakaan. Ia mengira anaknya jatuh dari tangga. Pikiran itu masih melekat bahkan saat ia bergegas pulang dan sampai di depan rumah.
Kenyataan justru lebih kejam. Saat naik ke atas, ia melihat putra kesayangannya sudah tak bernyawa dengan luka tusuk. Naluri sebagai ayah membuatnya berusaha memberikan napas buatan, meski sia-sia. Sang anak sudah pergi.
Kini, kemarahan dan rasa keadilan yang mendorongnya. Maman dengan tegas menuntut hukuman maksimal bagi HA (31), tersangka pelaku pembunuhan anaknya.
Artikel Terkait
Parkir Liar di Depan Stasiun Bekasi: Solusi Warga Hadapi Tarif Resmi yang Menggurita
Pendidikan Indonesia: Antara Janji Kurikulum dan Krisi Demokrasi di Ruang Kelas
Prabowo Pasang Gigi Enam, Menteri Diminta Ikut Irama di Tahun Kedua
Polisi Ringkus Dua Pelaku Penebangan Liar Jati di Ngawi, Sita Ratusan Gelondongan