Satu Kilometer Melawan Sepi: Kisah Pak Muh dan Sawah yang Menjaga Ingatan

- Selasa, 06 Januari 2026 | 21:06 WIB
Satu Kilometer Melawan Sepi: Kisah Pak Muh dan Sawah yang Menjaga Ingatan

Pintu kayunya berderit pelan, MURIANETWORK.COM masih samar. Muhyadi atau Pak Muh, begitu orang-orang memanggilnya sudah bangkit dari tempat tidur jauh sebelum azan Subuh. Usianya 77 tahun. Di bawah cahaya lampu yang redup di Desa Batuanten, langkahnya mantap menuju masjid. Rutinitas ini seperti napas baginya, tak pernah terlewat. Masjid itu lebih dari tempat ibadah; ia adalah persinggahan pertama sebelum menghadapi hari-hari yang sunyi.

Usai shalat, ia tak buru-buru pulang. Warung kecil dekat masjid sudah buka, asapnya mengepul. Pak Muh membeli lauk sederhana untuk sarapan dan bekal ke sawah. Di rumah, ia makan nasi putih dengan hening, ditemani segelas air hangat. Lalu, ia bersiap. Kaus partai merah yang sudah kusam ia kenakan, caping usang di kepala, cangkul dipanggul di bahu. Seragam kebanggaan seorang petani tua.

Satu Kilometer Melawan Dua Dasawarsa

Kabut masih tebal ketika ia mulai berjalan. Satu kilometer? Bagi Pak Muh, itu bukan apa-apa. Bandingkan dengan dua puluh tahun hidup tanpa istri tercinta. Satu kilometer hanya perjalanan kaki, sementara dua dasawarsa itu adalah perjalanan rindu yang tak berujung. Ia sudah terbiasa dengan kesunyian, hanya ditemani suara langkahnya sendiri di aspal yang sepi.

Di sawahlah ia merasa masih berarti. Di sana, ia tak perlu banyak bicara. Caping dan cangkulnya adalah sahabat yang paling setia caping melindungi dari terik, cangkul memberinya kekuatan untuk tetap berdiri meski usia merapuhkan tulang.

“Aku ya kepingin sante neng masa tuane, tapi ya ning baen aku bingung nekan neng ngumah langka kegiatan, sepi langka batire, anak putune adoh,”

gumamnya suatu kali. Lebih baik lelah di sawah, sesekali berhenti mengambil napas di pematang, daripada perlahan-lahan mati karena kesepian di dalam rumah sendiri.

Luka di Balik Kain Batik

Senja mulai turun ketika ia pulang. Bahunya memikul kayu bakar, tangan kirinya menjinjing keresek berisi singkong atau hasil bumi lain. Sampai di rumah, kayu ditata rapi, dahaga dipadamkan dengan segelas air. Lalu ia bersih-bersih diri, menyambut waktu Maghrib.

Tapi justru di sinilah cobaan terberatnya. Bukan cangkul yang berat, melainkan jam-jam setelah salat Maghrib usai. Di bawah lampu yang redup, Pak Muh kini rapi dengan baju batik duduk menyantap makan malam seadanya.

Di saat-saat seperti itulah pertahanannya sering runtuh. Air mata menetes, jatuh ke piring. Ia menangis bukan karena makanannya, tapi karena kesunyian itu datang lagi, membuka pintu kenangan. Sang istri seolah hadir, meninggalkan sesak yang tak terbendung.

Tak ada tisu di meja. Ia menyeka pelan dengan ujung lengan baju batiknya kain yang tadi dipakai untuk menghadap Tuhan, kini dipakai untuk mengusap duka.

Tidur adalah pelarian terakhir. Dalam mimpinya, ia berharap bisa bertemu sang istri, mengunjungi kembali kenangan-kenangan indah. Sebelum esok pagi, ia harus berjalan lagi satu kilometer itu, membasuh sepi dengan lumpur di sawah.

Mungkin bagi anak-anaknya di kota, ini pemborosan tenaga dan waktu. Tapi bagi Pak Muh, ritual harian ini adalah cara satu-satunya untuk tetap waras. Sejatinya, ia tidak cuma menanam padi. Ia sedang menolak mati dalam kesepian, sebelum waktunya benar-benar tiba.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar