Ketika Pria Tak Diajari Menangis: Luka Emosional yang Diwariskan

- Senin, 05 Januari 2026 | 22:00 WIB
Ketika Pria Tak Diajari Menangis: Luka Emosional yang Diwariskan

Pembahasan soal kesehatan mental memang makin ramai akhir-akhir ini. Dari obrolan di media sosial sampai diskusi serius di ruang kebijakan, semua sepakat ini hal penting. Tapi, ada satu sisi yang masih sering luput: pengalaman emosional para pria. Ini bukan soal mereka tak punya perasaan, lho. Masalahnya lebih ke soal bagaimana sejak kecil, banyak laki-laki tak pernah benar-benar diajari cara mengenali apa yang mereka rasakan, apalagi mengungkapkannya.

Coba ingat-ingat. Dari kecil, anak laki-laki kerap dicekoki pesan yang itu-itu saja. Jangan menangis, nanti dibilang cengeng. Mengeluh itu tanda lemah. Ekspresi sedih atau takut langsung dipotong dengan seruan, "Ayo, laki-laki harus kuat!" Mungkin terdengar klise, tapi pesan-pesan sederhana itu lama-lama membentuk dinding antara seorang pria dan emosinya sendiri.

Alhasil, yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih diajak memahami, mereka malah terlatih untuk menekan dan mengabaikan gejolak di dalam. Perasaan bukan dilihat sebagai bagian yang wajar dari menjadi manusia, melainkan seperti gangguan yang harus disingkirkan. Lama-kelamaan, kebiasaan ini bikin jarak. Bukan cuma dengan orang lain, tapi juga dengan diri sendiri.

Memasuki dunia dewasa, jarak itu makin terasa nyata. Banyak pria kesulitan banget saat harus menjelaskan apa yang sebetulnya mereka alami ketika diterpa masalah. Lelah secara emosional sering disamarkan dengan sibuk kerja. Kesedihan disembunyikan dalam diam yang panjang. Kekecewaan? Itu bisa berubah jadi kemarahan atau sikap menarik diri. Dalam hubungan asmara, pola seperti ini kerap disalahartikan. Dikira tidak peduli atau bersikap dingin.

Budaya maskulinitas yang dominan jelas memperparah keadaan. Pria selalu diposisikan sebagai tulang punggung, pengambil keputusan, simbol keteguhan. Dalam konstruksi sempit itu, tidak ada ruang untuk kerentanan. Mereka diharapkan bisa memahami orang lain, tapi jarang sekali diberi kesempatan untuk dipahami. Dituntut selalu jadi solusi, bukan manusia biasa yang juga bisa goyah dan butuh sandaran.

Dampaknya bisa ditebak. Banyak pria baru mencari pertolongan profesional ketika situasinya sudah kritis. Data kesehatan mental pun menunjukkan tren yang miris: pria lebih jarang minta tolong, tapi justru lebih rentan menanggung beban yang terakumulasi bertahun-tahun. Akar masalahnya bukan karena mereka tidak sadar, tapi lebih pada stigma yang mengakar. Mengakui ada luka batin sering dianggap sama saja dengan mengakui kegagalan sebagai seorang laki-laki.


Halaman:

Komentar