Medan, Senin lalu suasana di SMK Negeri 7 Medan terasa berbeda. Ruang kelas yang dulu mungkin biasa saja, kini tampak lebih cerah dan lengkap. Ini bukan perubahan kecil, melainkan bagian dari program besar pemerintah yang telah menyentuh lebih dari 16 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Dan sekolah ini salah satu yang merasakan dampaknya langsung.
Antusiasme itu jelas terlihat, salah satunya dari Muhammad Aji Surono, siswa kelas XI jurusan kuliner. Buat Aji dan teman-temannya, perbaikan gedung dan fasilitas ini ibarat suntikan semangat baru.
“Perasaan senang membanjiri saya. Karena kan dengan adanya program ini, sekolah kami sangat terbantu akan fasilitas. Dan fasilitas yang kami terima, bisa membuat kami belajar dengan lebih nyaman,”
katanya, ditemui di sela-sela aktivitas sekolah.
Bantuan yang diterima sekolah ini cukup signifikan, mencapai Rp3,17 miliar dari Kemendikdasmen. Angka itu tak sekadar di atas kertas. Hasilnya nyata: empat gedung baru berdiri, menopang peningkatan kualitas belajar-mengajar di sana.
Namun begitu, revitalisasi tak cuma soal tembok dan atap. Ada juga gelombang modernisasi lewat digitalisasi. Sekolah kini dilengkapi Interactive Flat Panel (IFP) atau smartboard, plus perangkat teknologi pendukung lainnya. Alat-alat ini dirancang untuk mengubah cara belajar, jadi lebih interaktif dan mengikuti zaman.
Aji dengan detail menceritakan perubahannya.
“Sebelumnya kan untuk gedung hanya lantai 1 sekarang ada lantai 2. Kursi-kursi menjadi lebih baru, dan meja juga baru,”
sambungnya. Menurut dia, lingkungan yang lebih baik itu memicu motivasi. “Pastinya kami lebih semangat untuk belajar. Fasilitas baru, gedung baru, dan itu akan menambah semangat kami untuk lebih meraih ilmu dan prestasi,” ujar siswa yang sebentar lagi berusia 17 tahun itu.
Di sisi lain, adaptasi tetap diperlukan. Terutama dengan kehadiran smartboard yang masih terasa asing bagi sebagian siswa. Aji mengakuinya.
“Karena kan beberapa siswa masih asing dengan smartboard ini. Tapi kalau untuk komputer, karena memang sudah diajar dari kelas 1, kami sudah mengenal basic-basic komputer. Jadi, kalau untuk komputer, kami tidak terlalu membutuhkan adaptasi berlebihan,”
jelasnya.
Harapannya ke depan sederhana namun penting: program seperti ini perlu terus digulirkan. Tak hanya di Medan, tapi ke seluruh penjuru negeri. Agar mutu pendidikan Indonesia tak ketinggalan, mampu sejajar dengan negara-negara lain di Asia.
“Lalu untuk ke depannya, lanjutkan program-program yang mendukung pendidikan di Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih karena telah mendukung program-program yang sangat baik dan bagus untuk pendidikan Indonesia. Terima kasih, Presiden Prabowo,”
tutup Aji, mengakhiri pembicaraan.
Cerita dari SMK Negeri 7 Medan ini mungkin hanya satu titik. Tapi ia memberi gambaran tentang bagaimana sebuah gebrakan nyata bisa langsung menyentuh kehidupan sehari-hari di ruang kelas.
Artikel Terkait
Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Makassar
Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri
Wakil Bupati Bone Serahkan Bantuan dan Refleksikan Kinerja Setahun di Safari Ramadan
Kapolri Perintahkan Bareskrim Tindak Tegas Pencucian Uang dari Tambang Emas Ilegal