Dari Udara, Trump Rentangkan Ancaman ke Kolombia, Iran, hingga Greenland

- Senin, 05 Januari 2026 | 18:20 WIB
Dari Udara, Trump Rentangkan Ancaman ke Kolombia, Iran, hingga Greenland

Dari dalam Air Force One, Presiden Donald Trump mengirimkan sinyal keras. Usai operasi penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela, Washington, menurutnya, belum selesai. Bisa jadi, target-target lain akan menyusul.

Pernyataannya itu ia sampaikan pada Minggu (4/1/2026), menanggapi pertanyaan wartawan tentang nasib pemimpin Venezuela yang kini berada di New York. Tapi jawabannya justru melebar jauh, seperti tembakan yang menghujam ke beberapa titik sekaligus di peta dunia.

Kolombia, misalnya. Dengan nada pedas, Trump menyebut negara tetangga Venezuela itu "dijalankan oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat."

Ia merujuk pada Presiden Gustavo Petro, yang kerap bersitegang dengannya.

"Dia tidak akan melakukan itu untuk waktu yang lama," ujarnya tentang Petro. "Dia punya pabrik-pabrik kokain dan fasilitas produksi kokain."

Ketika ditanya apakah pemerintahannya akan melancarkan operasi serupa ke Kolombia, jawabannya singkat dan penuh arti: "Kedengarannya bagus."

Namun begitu, ancaman tak berhenti di sana. Trump juga menyinggung Meksiko. Menurutnya, narkoba "mengalir deras" melalui perbatasan dan kartel di sana "sangat kuat." "Kita harus melakukan sesuatu," katanya, tanpa merinci.

Iran pun tak luput. Terkait gelombang protes di negara itu, Trump berkomentar keras. "Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat."

Di sisi lain, untuk Kuba sekutu utama Caracas Trump justru punya penilaian berbeda. Ia tak bicara tentang intervensi militer. Menurutnya, negara pulau itu sudah "siap runtuh" dengan sendirinya.

"Saya tidak tahu apakah mereka akan bertahan," katanya. "Mereka mendapatkan semua pemasukan dari Venezuela, dari minyak Venezuela."

Pernyataan ini agak berbeda dengan isyarat Menteri Luar Negeri Marco Rubio lebih awal, yang menyiratkan kemungkinan aksi militer terhadap Havana.

Dan, seperti lagu lama yang diputar ulang, Trump kembali menyentuh soal Greenland. Keinginannya untuk mengambil alih wilayah semi-otonom Denmark itu ia tegaskan lagi. Alasannya klasik: keamanan nasional.

"Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional," tegasnya, menggambarkan kawasan itu "dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana."

Serangkaian pernyataan dari udara itu, singkatnya, meninggalkan kesan yang jelas. Pasca-Venezuela, panggilan untuk konfrontasi justru semakin luas. Dunia menunggu, apa yang akan terjadi berikutnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar