Program Makan Bergizi Picu Inflasi, Harga Telur hingga Susu Melambung

- Senin, 05 Januari 2026 | 17:20 WIB
Program Makan Bergizi Picu Inflasi, Harga Telur hingga Susu Melambung

Sejak digulirkan secara nasional tahun lalu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang menuai pro dan kontra. Nah, di 2026 ini skalanya makin diperbesar. Tapi, efek sampingnya mulai terasa di pasar. Harga sejumlah bahan pokok merangkak naik, dan banyak yang menyoroti kaitan langsungnya dengan program pemerintah tersebut.

Tekanan harga paling kentara pada komoditas seperti telur dan daging ayam. Di beberapa daerah, angkanya bisa mendekati 10%. Pemerintah sendiri tak menampik. Mereka mengakui bahwa lonjakan permintaan dari jutaan paket makanan harian belum sepenuhnya bisa diimbangi oleh produksi yang ada. Alhasil, stok di pasar tradisional pun ikut menipis.

Namun begitu, dampaknya ternyata tak cuma berhenti di situ. Menurut pantauan di lapangan, sayur-sayuran seperti wortel, selada, dan sawi ikut terdongkrak harganya. Begitu pula dengan bumbu dapur. Yang cukup mencolok adalah kelangkaan susu ultra kemasan 1 liter di minimarket-minimarket. Barang yang dulu mudah ditemui, sekarang susah didapat. Kalau pun ada, harganya sudah selangit.

Badan Pusat Statistik (BPS) punya catatan resmi soal ini. Mereka menegaskan bahwa kenaikan harga pangan akibat MBG ini telah berkontribusi pada inflasi di tingkat daerah. Data ini tentu jadi bahan pertimbangan yang serius.

Di sisi lain, ada klaim bahwa program ini justru menguntungkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Klaim ini rupanya tak diterima begitu saja oleh masyarakat. Banyak yang mempertanyakan, bahkan membantahnya secara terbuka.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang warganet, Khey Riski WU, lewat akun Twitter-nya.

"MBG dinilai paling menguntungkan UMKM," gw heran UMKM mana yg diuntungkan. Bangsat bener semua harga bahan pokok naik gara-gara program mudharat ini.

Kritik pedas itu mewakili kegelisahan yang cukup luas. Rasanya, program yang bertujuan mulia ini justru menciptakan gejolak ekonomi mikro yang tak terduga. Pemerintah ditantang untuk mencari solusi, agar bantuan yang satu ini tidak malah membebani kantong rakyat di sisi yang lain.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar