Dino Patti Djalal Soroti Sikap Kemlu: Kenapa Takut Sebut AS dalam Kasus Venezuela?

- Senin, 05 Januari 2026 | 14:50 WIB
Dino Patti Djalal Soroti Sikap Kemlu: Kenapa Takut Sebut AS dalam Kasus Venezuela?

Dino Patti Djalal Kritik Sikap RI Soal Venezuela: Dinilai Terlalu Normatif dan Tak Berani

Dino Patti Djalal, mantan Wakil Menteri Luar Negeri, tak sungkan menyuarakan kritiknya. Kali ini, sasarannya adalah sikap pemerintah Indonesia, khususnya Kemlu, dalam menanggapi situasi panas di Venezuela. Menurutnya, pernyataan resmi yang dikeluarkan terkesan terlalu aman, normatif, dan malah menghindari inti persoalan. Padahal, ada dugaan kuat pelanggaran hukum internasional yang melibatkan Amerika Serikat di sana.

Melalui media sosial, Dino mempertanyakan keengganan Indonesia menyebut peran AS secara gamblang. Ini aneh, katanya. Bukankah Indonesia punya tradisi diplomasi yang lantang dan konsisten membela keadilan global?

“Saya heran membaca pernyataan Kemlu RI re Venezuela yang sangat standar dan sama sekali tidak menyebut Amerika Serikat. Sejak kapan kita sungkan atau takut mengkritik kawan yang melakukan pelanggaran hukum internasional?”

Ucap Dino pada Senin lalu. Kritiknya tak berhenti di situ.

Di sisi lain, Dino juga menyoroti keheningan Menteri Luar Negeri Sugiono. Ia merasa dunia internasional justru menanti pandangan Indonesia. Sebagai salah satu aktor penting dari Global South, Indonesia punya posisi strategis dan legitimasi moral dalam isu-isu semacam ini. “Kenapa Menlu Sugiono sampai sekarang tidak bersuara, padahal dunia menunggu?” lanjutnya.

Bagi Dino, momen Venezuela ini seharusnya jadi kesempatan emas. Saatnya Indonesia menunjukkan kembali jati diri politik luar negerinya yang bebas aktif. Ia mengingatkan sebuah contoh nyata di masa lalu: tegasnya Indonesia menentang invasi AS ke Irak tahun 2003, meski saat itu hubungan dengan Washington cukup erat.

“Ini momen Indonesia perlu percaya diri menunjukkan sikap, sama seperti ketika kita dulu menentang invasi AS terhadap Irak,”

tegasnya.

Prinsip bebas aktif, dalam pandangannya, bukan sekadar kata-kata indah di kertas diplomasi. Itu adalah keberanian untuk punya pendirian, membela hukum internasional, dan nilai-nilai keadilan. Kemitraan dengan Amerika Serikat atau negara mana pun seharusnya tidak membuat Indonesia jadi penurut dan mengabaikan hal-hal prinsipil.

“Bebas aktif itu artinya berani berpendirian. Bermitra dengan AS dan dengan negara mana pun tidak boleh membuat Indonesia mengorbankan hal-hal yang prinsipil,”

tandas Dino.

Kritikan pedas dari Dino ini menambah panjang daftar sorotan terhadap arah diplomasi Indonesia di bawah pemerintahan yang baru. Banyak yang berpendapat, sikap tegas dalam isu global sangat dibutuhkan. Tanpa itu, kredibilitas dan kepemimpinan moral Indonesia di panggung internasional bisa dipertanyakan, apalagi di tengah dinamika geopolitik yang makin ruwet dan tak menentu.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar