Gen Z Ganti Rolex dengan Like: Era Baru Pamer Status di Ekonomi Validasi

- Senin, 05 Januari 2026 | 09:25 WIB
Gen Z Ganti Rolex dengan Like: Era Baru Pamer Status di Ekonomi Validasi

Peta konsumsi global sedang berubah drastis. Menjelang akhir 2025, laporan pasar mengungkapkan sesuatu yang menarik: barang-barang mewah tradisional mulai kehilangan pesonanya. Tapi jangan salah, ini bukan tanda daya beli masyarakat melemah. Uangnya masih ada, hanya saja berpindah ke arah yang sama sekali berbeda. Pergeseran ini didorong kuat oleh psikologi Gen Z, melahirkan apa yang kini disebut sebagai Ekonomi Validasi.

Bagi para pemasar dan agensi digital, fenomena ini memaksa kita untuk memikirkan ulang apa sebenarnya arti "status" di mata konsumen masa kini. Definisi lama tampaknya tak lagi berlaku.

Simbol Status Fisik Mulai Pudar?

Angkanya cukup jelas. Sektor hard luxury seperti jam tangan dan mobil mewah menunjukkan perlambatan. Ekspor jam tangan Swiss, misalnya, anjlok 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa pabrikan supercar ternama di Eropa bahkan mengaku pesanan mereka mandek untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir.

Sebuah analisis pasar dengan gamblang menyimpulkan, "Kita sedang menyaksikan era 'Experience over Ownership'. Bagi generasi muda, kepemilikan aset fisik bukan lagi penanda status yang utama."

Jadi, uang yang dulu mungkin dipakai untuk membeli tas branded dengan harga selangit, sekarang dialihkan. Generasi Z dan Milenial yang berpenghasilan cukup justru lebih memilih experiential luxury. Mereka membeli tiket konser VIP, merencanakan perjalanan ke tempat-tempat eksotis yang jarang dikunjungi, atau mengikuti wellness retreat yang mahal.

Validasi di Media Sosial: Mata Uang yang Sesungguhnya

Namun begitu, ceritanya belum selesai. Ada lapisan lain yang lebih dalam. Pengalaman mewah itu sendiri, bagi mereka, seolah belum "sah" kalau tidak terekam dan mendapat validasi di dunia digital.

Di sini logikanya berubah. Bagi Gen Z, validasi di media sosial berupa jumlah like, view, dan komentar telah mengambil alih fungsi jam tangan Rolex atau tas Hermès. Ini menjadi alat baru untuk pamer status. Coba bayangkan, sebuah foto liburan di Raja Ampat yang hanya dapat 50 likes dianggap kurang greget. Tapi foto yang sama, jika viral dan masuk FYP dengan puluhan ribu interaksi, itu adalah kesuksesan sosial yang sempurna.

Psikologi inilah yang memicu ledakan permintaan layanan Social Media Marketing (SMM) Panel. Dulu orang beli barang mewah untuk pamer ke tetangga. Sekarang, mereka membeli metrik interaksi untuk "dilihat" dan divalidasi oleh algoritma.

Peluang Baru Bagi Agensi yang Cerdik


Halaman:

Komentar