Rasa nyaman yang sama diakui oleh Anna Müller, turis asal Jerman berusia 29 tahun. Baginya, Prawirotaman menawarkan sesuatu yang spesial.
"Saya merasa seperti tinggal di lingkungan lokal, bukan di area wisata yang terlalu ramai," katanya.
Intinya, Prawirotaman membuktikan satu hal: pariwisata tidak harus menghapus identitas asli. Meski di malam hari dihiasi lampu temaram dan alunan musik akustik, nilai-nilai kebersamaan dan toleransi khas Yogya tetap jadi fondasi utamanya.
Jadi, kawasan ini bukan cuma tempat untuk menginap atau sekadar berfoto. Lebih dari itu, Prawirotaman adalah contoh nyata bagaimana sebuah kota bisa merangkul dunia luar tanpa kehilangan jati dirinya sedikit pun. Suasana yang sulit didapatkan di banyak tempat lain.
Thalita Amanda Zeta Salsabila
Mahasiswi SI Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Artikel Terkait
Demokrasi yang Diculik: Ketika Pemilu Hanya Jadi Panggung Pesta Elit
Gus Irfan Cicipi Menu, Rasa Nusantara Siap Sambut Jemaah Haji 2026
Pemerintah Pacu Huntara dan Huntap untuk Korban Bencana yang Kehilangan Desa
Prabowo Tanya Panglima TNI: Atlet Berkuda Kita Sudah Naik Pangkat?